Terima Order dari Gelandangan hingga Pejabat

Selasa, 15 Agustus 2017 | 12:43:24 WIB
Sony, pelukis jalanan yang sering mangkal di Jalan Arifin Achmad sedang menunggu pelanggan yang mau dilukisnya, Kamis (10/8/2017).

PEKANBARU - Siang itu, Soni (53) terlihat sedang berbincang dengan beberapa pelanggan yang akan memesan lukisannya. Terlihat beberapa lukisan dibiarkan berjejer di trotoar Jalan Arifin Achmad, Kota Pekanbaru. Di antara lukisan yang berjejer terdapat beberapa nama orang penting, ada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, ulama terkenal Hasyim Asyari dan beberapa tokoh penting lainnya.

Yang uniknya, Soni melukis wajahnya sendiri dan hasil lukisan itu dipajang paling atas di antara lukisan yang lainnya. Serta ada lukisan seorang lelaki yang siapa sangka lukisan tersebut dipesan oleh seorang gelandangan yang beberapa bulan lalu diorder dan tidak pernah diambil hingga sekarang, padahal gelandangan tersebut sudah membayar penuh lukisan tersebut.

“Lukisan ini sudah jadi 3 hari lalu, setelah gelandangan itu memesan. Uuran yang dipesan sekitar 40 cm x 30 cm dengan harga Rp50 ribu yang sebenarnya harga aslinya Rp150 ribu, karena dia gelandangan saya ikhlas turunkan harga, akan tetapi sampai saat ini lukisan tidak pernah diambilnya,” ujar Soni seperti dilansir dari Riau Pos.

Soni bercerita, tidak pernah membatasi siapa saja yang ingin memesan lukisan kepadanya, pernah suatu ketika hasil lukisan yang dia buat hanya dibayar dengan nasi bungkus.

”Saya menerima semua kalangan untuk memesan. Pernah pejabat daerah order lukisan saya, hasilnya dia sangat puas dan saya diberikan uang tips. Semua ini karena seni yang tertanam dalam tubuh saya dari kecil dan akhirnya bisa menjadi mata pencarian bagi saya,” ujarnya.

Ayah dari 5 orang anak ini mengatakan, bahwa lukisan terbagi menjadi beberapa aliran, di antaranya klasikisme, fauvisme, futurisme serta kubisme. Dari semua aliran itu tingkat kesusahannya berbeda-beda. ”Setiap lukisan mempunyai tingkat kesusahan yang berbeda dan mempunyai harga yang berbeda juga tergantung dengan ukuran,” imbuhnya.

Dalam sehari Soni bisa mendapatkan keuntungan antara Rp500 ribu hingga Rp600 ribu. ‘’Dalam satu hari ada dua sampai tiga orang yang order. Semua tergantung rezeki saya dan keluarga, kadang dapat banyak kadang sama sekali tidak ada yang order, hari yang paling ramai Sabtu dan Ahad,” ungkapnya.

Soni bercerita pertama kali berjualan di daerah Pasar Bawah, Jakarta Pusat selama 15 tahun, setelah itu hatinya tergerak untuk hijrah ke Kota Pekanbaru hingga saat ini. ”Saya pindah karena istri saya orang Pekanbaru, saya akhirnya hijrah,” ujarnya.

Menurutnya, di Pekanbaru sampai saat ini tidak mempunyai wadah untuk melepaskan bakat seninya. ‘’Keinginan saya kepada Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan wadah kepada kami, agar kami tidak berpindah-pindah tempat,” tutupnya.

Terkini