HARIANRIAU.CO - Insiden robohnya tembok SDN 141 di Jalan Teuku Bey, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya masih menjadi luka mendalam bagi dunia pendidikan di Pekanbaru. Pasalnya, selain menimbulkan korban luka, reruntuhan tembok sekolah tersebut juga menimbulkan korban jiwa.
Sebelum roboh, kondisi tembok sekolah tersebut juga sudah dalam posisi miring. Di dinding tembok itu bahkan sudah ditempel kertas bertuliskan 'Awas!!!!! Pagar Ini Mau Roboh'. Menurut saksi mata sekaligus korban luka, Rahma (32) posisi tembok sebelum roboh memang sudah dalam keadaan miring dan terpasang surat peringatan akan roboh. Hanya saja, ia tidak terlalu memperhatikan peringatan yang terpasang tersebut.
"Tembok itu memang sudah ada miring posisinya. Tapi saya nggak terlalu perhatiin kalau ada surat peringatannya juga disitu. Tadi kejadiannya pas saya ngantar anak ke sekolah. Yang saya lihat ada 2 (korban meninggal dunia) terhimpit tembok. Satu usianya remaja satu lagi SD seumuran sama anak saya," ujarnya kepada awak media.
Sementara itu Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto, memastikan untuk sementara korban meninggal dunia berjumlah 1 orang. Korban bernama Yanitra Octavizoli (17) dan masih berstatus pelajar SMA. Korban tewas tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di RS Syafira karena tertimpa reruntuhan tembok sekolah sebelum dievakuasi ke rumah sakit.
"Untuk sementara korban meninggal dunia baru 1 orang. Sebagian lagi korban mengalami luka berat dan luka ringan. Ada 5 korban luka yang dirawat di RS Syafira," tuturnya.
Terkait insiden itu sendiri, Santo mengaku pihaknya masih berupaya membantu para korban yang dirawat di RS Syafira. Mengenai ada tidaknya unsur kelalaian dan siapa yang bertanggungjawab atas kejadian itu, pamen berkepala pelontos itu pun belum bisa menyimpulkan terlalu dini dan masih menunggu hasil penyelidikan tim Polsek Bukit Raya.
"Terlalu dini kalau kita menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab. Yang jelas kita sekarang masih fokus menolong korban luka di rumah sakit," tutupnya. (MCR)