HARIANRIAU.CO - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riau membeberkan beberapa dampak kerugian industri di bumi Lancang Kuning akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setidaknya, total kerugian yang dilaporkan beberapa industri di Riau mencapai hingga ratusan miliaran rupiah.
"Jika ditotal, estimasi kerugian secara ekonomis akibat karhutla bagi pelaku bisnis di Riau, telah mencapai angka puluhan, bahkan bisa menyentuh ratusan miliar rupiah," sebut Kholis Romli, Direktur Eksekutif Kadin Riau, saat bincang-bincang dengan media siber ini, Selasa (24/9/2019), di Gedung Kadin Riau.
Dampak bisnis yang dialami pelaku usaha, menurutnya, berbeda konteks dan aksentuasinya sesuai natural sektor bisnis masing-masing.
Secara obyektif, dalam satu bulan ini telah terjadi penurunan produktivitas dunia usaha sebagai akibat dari bencana karhutla dan asap beracun.
"Kerugian bisnis ini diakibatkan terhentinya proses produksi, terganggunya kegiatan perdagangan dan transportasi, serta menurunnya nilai sumber daya di daerah terdampak," ujarnya.
Adapun secara sektoral, tutur Kholis, asosiasi pelaku bisnis terdampak bencana kabut asap ini diantaranya adalah pelaku bisnis tour and travelling yang tergabung di Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) Riau, di mana banyak para wisatawan yang membatalkan kunjungannya ke sejumlah destinasi wisata di Riau.
Kemudian, imbuhnya, pelaku bisnis pameran dan event organizing yang tergabung di Asperapi (Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia), juga mengalami banyak kerugian di mana banyak klien dan talent yang membatalkan keikutsertaannya dalam even mereka.
Selanjutnya, para pelaku bisnis di bidang jasa pengiriman ekspres pos dan logistik yang tergabung dalam Asperindo Wilayah Riau, ungkap Kholis, telah mengalami kerugian disebabkan banyak pengiriman via udara dialihkan lewat jalur darat sehingga menimbulkan keterlambatan. Pada bencana karhutla 2015, kerugian bisnis yang dialami anggota Asperindo Riau mencapai puluhan miliar rupiah.
Selain itu, ada pula pelaku bisnis di bidang jasa hotel dan restoran yang tergabung dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Riau juga menyampaikan kerugian disebabkan menurunnya tingkat hunian dan omset usaha selama bencana karhutla.
Hal ini terkait banyaknya kunjungan masyarakat dan even meeting atau convention yang dibatalkan, akibat ketidakpastian jadwal pesawat.
‘’Potensi penurunan tingkat hunian diprediksi mencapai 25-40 persen,’’ tukas Kholis.
Pelaku bisnis sektor UMKM yang tergabung dalam Hikmari (Himpunan Industri Kecil Makanan dan Minuman Riau), lanjut Kholis, pun mengeluhkan penurunan omset berkisar 30-40 persen akibat bencana karhutla, di mana hal ini disebabkan terhambatnya mobilitas bahan baku dan produk kepada konsumen.
Terakhir, tambah Kholis, sektor industri perkebunan dan kehutanan yang tergabung dalam Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Riau dan APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia) Riau, juga mengeluhkan terjadinya produktivitas budidaya dan prosesing; di mana karhutla ini telah mengganggu stamina dan kesehatan para karyawan maupun para vendor terkait.
Atas kerugian tersebut, Kadin Riau sebagai wadah seluruh pelaku usaha dan asosiasi bisnis mengajak semua pihak berpartisipasi mendorong pemerintah agar lebih efektif lagi mengatasi bencana karhutla. Paling tidak, ada upaya tindakan tegas dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini.
"Jika tidak segera diatasi, bencana karhutla 2019 di Riau ini menyerupai bencana yang sama pada 2015. Selain mengakibatkan kerugian secara ekologis dan kesehatan masyarakat, bencana karhutla ini pasti telah memberikan dampak kerugian secara ekonomis khususnya bagi pelaku bisnis," pungkas Kholis.
sumber: mediacenter.riau.go.id