Target Swasembada Pangan, Pelalawan Perkuat Kawasan Pertanian Kuala Kampar

Rabu,13 November 2019 - 19:31:18 WIB | Di Baca : 622 Kali

HARIANRIAU.CO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan perkuat kawasan pertanian padi di Kecamatan Kuala Kampar dengan skala agribisnis. Peningkatan produktivitas diharapkan berdampak terwujudnya swasembada pangan.

Kecamatan Kuala Kampar dikenal sebagai lumbung padinya Kabupaten Pelalawan. Kawasan pertanian padi di wilayah terluar Pelalawan ini memenuhi 90 persen kebutuhan gabah daerah.

Areal lahan pertanian seluas 2.930 hektare terhampar tanaman padi dengan bibit unggul lokal, Cekau dan Karya Pelalawan. Jenis padi lokal ini merupakan varietas lokal asli Pelalawan yang melengkapi kekayaan potensi pertanian Kabupaten Pelalawan.

Keunggulan dua varietas padi Cakau dan Karya Pelalawan ini dapat tumbuh subur meski tanpa diberi pupuk dan hanya mengandalkan kesuburan tanah saja. Tingkat kesuburan tanah di Kuala Kampar yang sangat sehingga sangat cocok untuk dua jenis padi lokal ini.

Sebagai salah satu upaya memajukan pertanian padi di Kuala Kampar, Bupati Pelalawan, HM Harris meresmikan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T) Mendol Coperative Farming SU-III Gapoktan Harapan Maju, Desa Sungai Upih, Kecamatan Kuala Kampar, belum lama ini.

Sejalan dengan kebijakan pembangunan pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) yang dikenal 9 agenda atau nawacita, maka setidaknya ada 3 prioritas program pembangunan Kabupaten Pelalawan yang menunjang atau menjadi bagian dari implementasi nawacita tersebut.

Tiga prioritas pembangunan tersebut yakni, pengembangan kawasan Teknopark, destinasi wisata Bono di Teluk Meranti dan pengembangan kawasan padi Kuala Kampar.

“Sebagai daerah yang terletak dipesisir dan merupakan daerah perbatasan negara, maka membangun Kabupaten Pelalawan berarti membangun Indonesia dari pinggiran. Pengembangan pertanian padi di kawasan Kuala Kampar dengan skala agribisnis akan berdampak bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani serta terwujudnya kedaulatan dan mewujudkan nawacita,” terangnya.

Pada kesempatan ini, Bupati Harris mengungkapkan sudah sejak lama Pulau Mendol dengan luas kurang lebih 30.000 Ha merupakan lumbung padi bagi kawasan pesisir bagian tengah Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau.

Penanaman padi di wilayah ini masih dilakukan dengan cara tradisional dan sebagian telah terjangkau oleh program pemerintah. Pada tahun 2015 lalu, produksi padi mencapai kurang lebih 18.000 ton.

Saat ini, Kabupaten Pelalawan dengan pengembangan dan inovasinya telah memiliki 5 jenis varietas padi unggul pasang surut yang telah dilepas dan dilaunching yakni Crkau, Karya Pelalawan, Bono, Mendol dan Inpara Pelalawan.

“Kecamatan Kuala Kampar berpotensi menyumbang produksi padi lebih 60.000 ton mengalami peningkatan 2 kali dari kondisi saat ini. Untuk itu kita berharap dengan telah ditetapkannya Kabupaten Pelalawan sebagai kawasan padi oleh Keputusan Menteri Pertanian dengan berbagai potensi tersebut, kami siap menerima penugasan dari pusat dan kami berharap juga kawasan padi di Kabupaten Pelalawan menjadi bagian dari roadmap Indonesia lumbung pangan dunia 2045,” papar Bupati Pelalawan.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Pelalawan bahwa Kecamatan Kuala Kampar memiliki potensi sawah kurang lebih sekitar 6.000 hektar atau hampir 90 persen dari total keseluruhan luas lahan sawah yang ada di Kabupaten Pelalawan yakni 7. 653 hektar.

Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan melalui Dinas Pertanian guna meningkatkan hasil produksi pertanian yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya antara lain,  saat ini Pemerintah Kabupaten Pelalawan tengah mencanangkan kawasan  pertanian dengan membuat pusat padi di Desa Sei Upih dan Sei Solok Kecamatan Kuala Kampar.

Komoditas padi memiliki beberapa keunggulan dalam pengembanganya. Diantaranya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan potensi pasar atau permintaan yang cukup besar dan dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan para petani.

Terkait hal itu, berbagai langkah dan upaya pemerintah terus dilakukan. Bupati Pelalawan, HM Harrris belum lama ini membuka Musrenbang RKPD Kecamatan Teluk Meranti tahun 2019.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Harris menyatakan terus akan terus berupaya agar dapat membesarkan petani serta kelompok-kelompok tani dengan dikumpulkannya para petani dengan badan hukumnya adalah KUD.

Kepengurusan KUD secara profesional dengan tidak ada dari anggota kelompok tani menjadi pengurus KUD dan kelompok tani digaji oleh KUD.

“Dana Desa gunanya untuk membangun desa dan Bumdesnya, kenapa Bumdes diutamakan sekarang gaji kepala desa lebih tinggi kalau dulu hanya sekitar 1 juta rupiah kalau sekarang mencapai sekitar 4 juta rupiah, namun kembali niat bagaimana Bumdes ini berkembang,” kata Bupati Harris.

Meenurutnya Kabupaten Pelalawan menjadi perhatian pusat karena mendukung program nasional salah satunya Teknopark dalam inovasi yang hasil sawit bukan lagi dijadikan CPO tetapi dijadikan bahan bakar.

Dengan menjadikan kawasan pangan sampai mendunia, Pemkab Pelalawan mempercepat  pembangunan kesejahteraan petani. Untuk itu, guna meningkatkan hasil produksi yang lebih baik lagi.
 
Maka saat ini Pemkab Pelalawan tengah melakukan penataan kawasan pertanian sentra padi di dua desa yakni Desa Sei Upih dan Sei Solok Kecamatan Kuala Kampar.

Dengan adanya, penataan kawasan ini, ditargetkan ke depannya hasil produksi padi ini dapat meningkat dengan menerapkan sitem dua kali penananaman padi serentak selama setahun.

Bahwa sejak tahun 2014 lalu sudah dilakukan sistem dua kali tanam serentak secara menyeluruh, sehingga dapat mengejar target produksipadi melalui menagement UPJA.

Selama ini, terpisahnya kewenangan isntansi instansi yang berkompeten dalam menggalakkan program Pelalawan Makmur melalui swasembada padi ini, seperti program pengembangan lahan pertanian dan peningkatan kualitas gabah di Dinas Pertanian, sedangkan peningkatan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan.

Namun sejak dileburnya dua instansi pemerintah daerah ini akan lebih memudahkan jalur koordinasi, antara kebijakan teknis di dinas dengan para penyuluh di bawah satu koordinasi Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Pelalawan.

Saat ini, berdasarkan rasio ketersediaan pangan dengan jumlah penduduk yang mengkomsumsinya, kebutuhan pangan Kabupaten Pelalawan baru mencapai 60 persen saja, untuk mencapai swasembada pangan diperlukan persawahan sebesar 11 ribuan hektar dengan produksi lima ton per hektarnya.

Artinya petani di sentra sentra produksi beras Kabupaten Pelalawan harus bekerja ekstra keras mewujudkan swasembada tersebut.
“Saat ini, berdasarkan rasio ketersedian pangan dengan kebutuhan masyarakat, kita baru bisa mencukupi 60 persennya saja, itu berdasarkan data dari Distan Provinsi, jika kita harus mengejar target swasembada padi, yang haris kita optimalkan ya pemanfaatan lahan sawah, jika kemaren petani kita tanam satu kali, sekarang harus dua kali setahun, opsi lainnya, dengan mengoptimalkan penanaman padi ladang yang tidak membutuhkan sistem pengairan yang lebih baik," papar Bupati Harris.

Setiap tahunnya, para petani padi di Kuala Kampar dan teluk Meranti, mengalami peningkatan jumlah produksi, namun belum sesuai target yang ditetapkan.

"Setiap tahun meningkat, tapi belum mencapai target, itu yang terus kita upayakan saat ini," tandasnya.

Bupati Pelalawan, HM Harris mengatakan bahwa melalui penerapan sistem dua kali tanam padi serentak dalam setahun ini, maka dirinya menargetkan hasil produksi padi ke depannya sebesar 50 ribu ton untuk sekali panen. Jadi, jika program dua kali tanam ini bisa di wujudkan, maka dalam setahun bisa melakukan hasil produksi sebesar 100 ribu ton pertahun. Namun demikian, program ini membutuhkan biaya seperti penyediaan jalan usaha tani (JUT) tipe A sepanjang 110 Km dan JUT tipe B sepanjang 50 Km, penyediaan 380 unit Alsintan, jaringan irigasi, dermaga pertanian serta kebutuhan lainnya. Dan jika dana ini bisa dikucurkan, maka pihaknya optimis program Pelalawan Makmur dapat dinikmati masyarakat.
 
"Terkait pemenuhan kebutuhan beras di Kabupaten Pelalawan sendiri, bahwa di Kabupaten Pelalawan kebutuhan akan beras tergolong cukup tinggi yakni mencapai 70 persen. Jumlah tersebut sudah berada di atas rata-rata Provinsi Riau yang hanya 50 persen saja. Sedangkan sisanya, kebutuhan beras di Kabupaten Pelalawan biasanya terpenuhi dari Sumatra Barat. Dari hasil produksi beras di daerah ini, kita baru memenuhi kebutuhan untuk daerah kisaran 60 persen, sementara sisanya kita penuhi dari Sumbar." Terangnya.
 
Karena itu, Pemkab Pelalawan melalui Dinas Pertanian tak henti-hentinya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil pertanian khususnya padi yang menjadi tanaman unggulan masyarakat di daerah ini khususnya Kecamatan Kuala Kampar.
 
"Selain potensi padi, kecamatan Kuala Kampar juga memiliki potensi lain yaitu terbentangnya ribuan hektar lahan persawahan dengan kondisi tanah yang subur. Sehingga Tak dapat di pungkiri dengan potensi yang dimilikinya itu membuat kecamatan Kuala Kampar pantas jika disebut sebagai pusat penghasil gabah terbesar atau lumbung padinya daerah ini," ungkap Bupati Harris.
 
Kesuksesan pertanian padi di Kuala Kampar, mendapatkan kekaguman dari Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, ketika menginjakkan kaki di tengah persawahan Desa Sungai Upih Kecamatan Kuala Kampar, Amran yang diantar oleh Helikopter PK-TWV milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dibuat kagum dengan padi yang menguning diatas lahan seluas 2.930 hektar yang siap panen.

Tak hanya Padi, potensi potensi pertanian masih sangat dimungkinkan untuk di kembangkan, salah satu penyebabnya, Kabupaten Pelalawan masih memiliki potensi lahan yang sangat luas, kondisi geografis yang mendukung.
 
Sejak Padi, Jagung dan Kedele masuk dalam upaya khusus (Upsus) pemerintah pusat yang dengan secara seius dikembangkan, berbagai strategi dan upaya dilakukan untuk peningkatan luas tanam dan produktivitas di daerah-daerah sentra produksi pangan, Upsus Pajale telah telah dimatangkan dengan memberikan pembekalan kepada para penyuluh pertanian, sehingga penerapan programUpsus Pajale benar benar sampai kepada petani.

Saat ini, pemerintah sangat mendukung pertanian di Pelalawan, salah satunya melalui baantuan modal pertanian. Wakil Bupati Pelalawan, H Zardewan menyambut baik dilaksanakannya sosialisasi dan business matching melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) asuransi usaha yanam ladi dan usaha yernak sapi di Kabupaten Pelalawan tahun 2019, baru-baru ini.

Wabup Zardewan mengatakan kegiatan ini sejalan dengan visi dan misi pemerintah daerah yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pelalawan Periode 2016-2021 dengan visi Inovasi Menuju Pelalawan Emas (Ekonomi Mandiri, Aman dan Sejahtera) salah satunya mendukung 7 Program Strategis yaitu Pelalawan Makmur. 

Ia menggatakan pentingnya masyarakat memanfaatkan serta menyertakan modal usaha dengan meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat melalui KUR untuk pelaku usaha dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam memanfaatkan layanan KUR ini bersama pihak lembaga keuangan formal seperti PT Baank Riau Kepri, PT Bank Mandiri, PT Bank Dana Amanah, Asuransi Jasindo dan lembaga jasa keuangan formal lainnya sehinga modal usaha yang dipinjamkan tersebut bisa memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memulai usaha dengan bunga yang kecil serta keuntungan yang besar. 

Mantan Sekretaris Daerah ini juga mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pinjaman modal usaha melalui rentenir yang akan memberikan efek merugikan di kemudian hari, melihat potensi Kabupaten Pelalawan di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan cukup besar untuk sebuah usaha produktif 

“Saya mengajak pelaku usaha untuk menyertakan modal usaha melalui KUR jangan lagi pakai lentenir sudah bunganya tinggi dan tak mampu kita bayar lalu rugi di kemudian hari, pergunakan layanan dan kemudahan dari lembaga keuangan formal bersama pemerintah daerah,” ujar Wabup Zardewan.
Sementara itu Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau Yusri menyambut baik di laksanakan kegiatan ini, karena ini adalah amanat dari undang-undang peratuan presiden yakni melalui OJK dalam meningkatkan inkusi keuangan masyarakat. 

Begitu pentingnya dilaksanakannya kegiatan ini bagi pelaku usaha dan UMKM di Kabupaten Pelalawan. Ia menyeebutkan ada sekitar 6.000 pelaku usaha dan UMKM di Pelalawan tersebar dengan berbagai macam sektor bidang usaha.

Melalui kegiatan ini akan kita berdayakan masyarakat melalui KUR dan mengajak agar menghimpun usaha dengan penyertaan modal melalui lembaga keuangan formal yang beroperasi di Kabupaten Pelalawan ini.

Yusri juga mengajak pelaku usaha dan UMKM meninggalkan rentenir mempergunakan lembaga keuangan formal agar masyarakat sejahtera dan bisa meningkatkan perekonomian bagi masyarakat khusus di negeri seiya sekata ini. (advertorial)

Share Tweet Google + Cetak