Belajar dari Pandemi: Antara Tuntutan Pendidikan dan Peran Keluarga

Rabu,21 Juli 2021 - 23:52:31 WIB | Di Baca : 183 Kali


HARIANRIAU.CO - 26 Juni 2021 tercatat peningkatan jumlah kasus posistif harian mencapai 21 ribu orang. Tren data tersebut belum menunjukkan akan terjadi penurunan secara siginifikan, bahkan diprediksi akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan jika tidak ditangani dengan baik. Kondisi ini tidak menutup kemungkinan bahwa rumah sakit berpotensi colaps. 

Di sisi lain, Nadiem Makarim, Mendikbudristek, tengah mewacanakan memulai kembali pembelajaran tatap mukadi sekolah. Salah satu upaya mewujudkannya yaitu mendorong vaksinasi kepada tenaga pendidik hingga akhir Juni lalu. Tapi gayung tak bersambut, karena tidak berbanding lurus dengan tren lonjakan penularan Covid-19 di Indonesia. Lalu bagaimana nasib pembelajaran di sekolah?

Data dari UNESCO (2021) menyebutkan terdapat 27 sekolah yang menutup sekolah di masa pandemi, baik secara penuh maupun hanya sebagian. Total pelajar yang terkena dampak lebih dari 174 juta siswa, artinya 10%dari jumlah siswa yang terdaftar. Potensi learning lossmenyebabkan penurunan pencapaian kualitas pendidikan bagi siswa. Pun potensi ini bisa saja mengancam keberlangsungan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Dampak ini diproyeksi mempengaruhi skor PISA turun dari 371 menjadi 350 dan penurunan penghasilan pasca lulus mencapai $5,299 per tahun dari angka dasar $5,783.

Dompet Dhuafa Pendidikan melakukan penelitian tentang belajar dari rumah pada 2020 dengan responden sebanyak 343 guru dan 223 orang tua. 65% mayoritas guru menyatakan proses pembelajaran dari rumah tidak efektifdan 16% menyampaikan keragu-raguannya. Para guru mengaku jika ada beberapa permasalahan ketika melakukan pembelajaran dari rumah, sebanyak 29.18% kesulitan melakukan monitoring, 25.64% terbentur di pengeluaran pulsa internet lebih tinggi., 13.31% tidak fokus menyelesaikan bahan ajar, 10.76% pekerjaan administratif menumpuk maupun tertunda, 7.22% kesulitan dalam pengembangan kapasitas, 6.37% kesulitan berkomunikasi dengan orang tua, 5.52%kesulitan koordinasi di sekolah,  dan 1.97% penyebab lainnya.

Tantangan tidak hanya terjadi pada guru, tetapi juga di rumah, baik bagi siswa maupun orang tua. Persoalan yang dihadapi siswa selama pembelajaran di rumah antara lain 80,47% siswa kesulitan belajar, 7.27% tidak berdisiplin dalam pembelajaran, 2.62% peningkatan kekerasan di rumah, dan 2.33% mengalami kendala infrastruktur di rumah. Bagi orang tua, pembiasaan pembelajaran dari rumah masih belum terbangun karena beragam kendala, sebanyak 29.71% siswa belajar jika diminta, 16.97% terbatasnya media pembelajaran, 14.49% orang tua sibuk dengan pekerjaan, 11.59% guru memberikan tugas tanpa evaluasi, 7.25% adanya gangguan dari lingkungan, dan 6.51% kurangnya komunikasi dengan pihak sekolah. 

Hal di atas berkorelasi linear dengan hasil penelitian Kemendikbud (2020), di mana anak mengalami hambatan belajar dari rumah. Kendala tersebut terlihat dari sebanyak 59.9% kesulitan memahami pelajaran, 52%kurang konsentrasi, 51,7% tidak bisa bertanya langsung kepada guru, 46.7% merasa bosan, 38.9% jaringan internet kurang memadai, 24% tidak bisa bertanya langsung dengan teman, 17.6% tidak ada yang mendampingi, dan 12.9% untuk penyebab lain. Penelitian ini menujukkan bahwa persoalan perangkat masih menjadi kendala, yaitu 40.3% terhambat karena komputer atau laptop, 6.7% gadget, dan 4.4% internet, dan 0.6%listrik.

Melihat berbagai tantangan di atas, tidak salah jika muncul kekhawatiran bahwa learning loss akan terjadi di Indonesia, sehingga wacana kembali ke pembelajaran tatap muka cukup serius disampaikan oleh pemerintah. Layaknya buah simalakama yang tidak memiliki risiko pada semua pilhan yang saat ini tersedia karena pembelajaran tatap muka bisa memicu penularan Covid-19 yang lebih masif. Selain kebijakan pemenuhan terhadap masalah infrastruktur penunjang proses pembelajaran, pemerintah pun perlu menguatkan kapasitas guru dalam belajar efektif daring berbasis teknologi, penguatan kurikulum dan pengembangan teknologi itu sendiri. Walaupun tugas melakukan mitigasi atas dampak pandemi tidak hanya bertumpu pada pemerintah semata, tetapi menjadi tugas seluruh elemen masyarakat.

Pandemi seharusnya memberi peluang untuk mengembalikan fungsi pendidikan kepada keluarga. Terbangunnya kesadaran peran keluarga dan masyarakat mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang sehat. Keluarga berperan sentral terlihat pada proses pendampingan belajar anak, menyediakan sarana dan akses sumber belajar. Upaya ini bukan tanpa tantangan, terjadinya perubahan keuangan keuargan, interaksi dan kontrol sosial masyarakat di masa pandemi sangat rentan terjadi konflik. Selain itu, rendahnya kecakapan orang tua dalam mendampingi belajar dan tidak adanya pembagian peran keluarga.

Peningkatan kapasitas bagi keluarga menjadi kunci supaya pendidikan anak di masa pandemi tetap efektif. Tumbuhnya kesadaran orang tua akan mengembalikan berbagai fungsi keluarga dalam pendidikan, termasuk pembagian peran ibu dan ayah. Bentuk-bentuk pembagian peran bisa dengan cara bergantian secara adil mendampingi anak belajar dan menyusun proyek bersama keluarga untuk pengembangan keterampilan baru. Dengan demikian anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda.

Orang tua harus memahami kondisi dan perkembangan anak supaya pengembangan peran sesuai dengan kondisi psikologis anak. Banyak anak (dan remaja) mengalami peningkatan emosi negatif yang menyebabkan keputusasaan, bahkan kasus bunuh diri anak meningkat. Emosi negatif memperlemah kerja cortex dan transmisi neurotransmitter pada syaraf otak, dimana mengakibatkan anak dalam tekanan sekaligus tidak fokus dalam proses belajar. Dalam penanggulangan faktor risiko di atas diperlukan individu yang kuat, resisten, tekun, disiplin, optimis dan pantang menyerah, dimana karakter tersebut hanya dapat dibentuk  pada tingkat individu dan keluarga.

Dengan berbagai pertimbangan di atas, diperlukan sistem pendidikan yang terintegrasi serta membentuk rasionalitas, emosi dan perilaku pada siswa secara berimbang. Prinsip sistem pendidikan ini pembelajaran berbasis perkembangan otak dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Pola pengasuhan yang efektif di masa pandemi dalam mendampingi belajar berdasarkan pada pembagian peran yang saling menguntungkan, membantu, melindungi, memberi dan berkoordinasi. Tidak sekedar meningkatkan efektivitas anak dalam belajar di rumah, tetapi mampu mengurangi tingkat stress dan meningkatkan keharmonisan keluarga.

 

Oleh: Eko Sriyanto, Manajer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan






Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...