Bupati Rohil saat meneteskan vaksin kepada bayi.

ADVERTORIAL

Kejar Target, Dinkes Rohil Terus Lakukan Pemberian Vaksin Hingga Pelosok Desa

Minggu,23 Oktober 2016 - 22:06:21 WIB | Di Baca : 3497 Kali

HARIANRIAU.O, ROKAN HILIR - Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Rokan Hilir akan terus melakukan sweeping kepelosok-pelosok desa guna capaian memberikan vaksin campak dalam memenuhi target sebagai mana yang telah diterapkan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) secara nasional sebanyak 95 persen.

“Petugas kesehatan akan mendatangi daerah-daerah terpencil untuk mensukseskamn kegiatan tersebut,” kata Kepala Diskes Rokan Hilir Dr H Juniadi, Saleh, Mkes.

Pemberian vaksin campak di wilayah pedesaan Rohil mencapai target yang ditetapkan secara nasional akan tetapi sesuai dengan perolehan data dari pemerintah pusat, Diskes Rohil baru mencapai 92 persen, maka dari itu pihaknya akan melakukan sweeping kepelosok desa-desa.

“Skala prioritas sweeping di daerah terpencil dan perbatasan Rohil, kami juga berharap aktivitas pemberian imunisasi campak bulan oktober 2016 secara nasional bisa memenuhi harapan pemerintah daerah maupun nasional,” tuturnya

Sasaran dalam program campak terang Kadiskes adalah balita yang berumur 9 hingga 59 bulan dengan target pencapaian 66.000 anak, dengan pospelayanan 200 pos yang tersebar di 18 kecamatan se Rohil.

Daya tahan balita yang lemah sangat mudah sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.

Penyakit Campak

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita  terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi  berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahabn dan berair, si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya.

Kemudian, disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare, satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi  turun naik, berkisar 38-40,5 derajat celcius.

Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah merupakan ciri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Awalnya hanya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ihanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak.

“Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi, akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya,” Dr Junaidi Saleh menjelaskan.

Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Dalam kondisi ini tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga stamina dan konsumsi makanan bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, mengobati berdasarkan gejala muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat efektif mengatasi virus campak.

Hal ini Jika tidak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya Bisa terjadi komplikasi, terutama pada campak berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang paru-paru dan radang otak. Komplikasi ini yang umumnya paing sering menimbulkan kematian pada anak

Imunisasi Campak

Sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak.

Vaksin campak berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Harus disimpan pada suhu 2-8????? C karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak. Bila virus vaksin mati sebelum sebelum disuntikkan, vaksin tersebut tidak akan mampu merangsang pembentukan antibody dengan kata lain imunisasi tersebut gagal.

Pada saat bayi dalam kandungan, antibody ibu khusus campak disalurkan ke bayi melalui plasenta atau ari-ari dan akan menetap sampai bayi dilahirkan. Pada umur 9 bulan hanya sekitar 10% bayi yang masih mempunyai antibody dari ibu

Bila imunisasi diberikan pada bayi yang masih mempunyai antibody dari ibu, pembentukan antibody spesifik campak sebagai tujuan dari imunisasi itu sendiri dapat terganggu menunda imunisasi dapat meningkatkan angka serokonversi. Atau, kalau imunisasi campak itu ditunda, ternyata pembentukkan antibodinya lebih baik tambahnya

Penundaan imunisasi dapat mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat campak. WHO merekomendasikan pemberian imunisasi campak pada umur 9 bulan pada negara berkembang.

Usia dan Jumlah Pemberian
Imunisasi campak diberikan dengan suntikan pada otot paha atau lengan atas. Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).

Efek Samping

Umumnya tidak ada efek samping dan relatif aman. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.

Efek samping campak diantaranya adalah demam tinggi, yang terjadi setelah 8-10 hari setelah vaksinasi dan berlangsung 24-48 jam (insidens sekitar 2%), ruam atau bercak-bercak merah selama sekitar 1-2 hari (insidens 2%). Efek samping yang lebih berat, seperti ensefalitis (radang otak), sangat jarang terjadi, kurang dari 1 setiap 1-3 juta dosis yang diberikan

Pada penderita alergi tidak terbukti berbahaya dan harus dihindari Karena vaksin campak tidak mengandung protein telur seperti  selama ini banyak dibicarakan. tetapi memang dalam proses pembuatannya dibiakkan diatas media putih telor tetapi dalam hasil akhirnya tidak mengandung partikel telor.

 

 

Syofyan Rambah

 

Share Tweet Google + Cetak