Penyerangan terhadap Ustad Abdul Somad di Bali Merusak Nilai Toleransi

Ahad, 10 Desember 2017 | 23:14:49 WIB
Ustaz Abdul Somad

HARIANRIAU.CO - Insiden penolakan ustad Abdul Somad di Bali oleh sejumlah massa yang tergabung dalam ormas sangat merusak nilai toleransi yang sudah dibangun selama ini di tanah air.

Menurut Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, cara-cara yang dilakukan ormas tersebut ketika menyerang hotel tempat Ustad Abdul Somad berceramah pada Sabtu (9/120), sangat merusak toleransi yang dibangun di Indonesia.

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak (Facebook)

"Kami termasuk yang menyesalkan cara-cara anarkistis yang memaksakan kehendak seperti itu. Justru cara-cara seperti itu menurut saya merusak toleransi." ujar Dahnil saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (10/12)

Diketahui, insiden itu berawal dari isu yang tersebar di media sosial yagn menyebutkan GP Anshor dan Banser menolak kedatangan ustad asal Pekanbaru, Riau itu.

Akan tetapi kedua ormas itu menegaskan bahwa pihak yang menyerang Abdul Somad di Bali tidak dikenal. Bahkan kejadian itu sempat viral di media sosial (medsos). Dari sejumlah rekaman video yang diunggah di berbagai aplikasi medsos ada tayangan yang menunjukkan massa yang membawa senjata tajam seperti parang meminta agar ustad Somad diusir dari Bali.

Massa awalnya hanya diperbolehkan berunjuk rasa di depan hotel, tetapi kemudian merangsek masuk. Polisi terpaksa memediasi perwakilan massa dengan pihak panitia.

Namun mediasi tidak membuahkan hasil. Demonstran meminta ustad Somad mengikrarkan janji sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah Alquran yang akhirnya dipenuhi.

Dahnil melihat penyerangan itu bentuk dari sikap intoleransi yang dipicu oleh organisasi massa dengan menyulut provokasi. Dia menyarankan, jika ada pihak tidak setuju dengan Ustad Abdul Somad, maka dapat dilakukan dengan cara dialog. Bukan melakukan tindakan anarki.

"Jadi kalau kemudian tidak bersepakat dengan Abdul Somad silakan saja datang dan berdialog dengan yang bersangkutan, tapi tidak dengan cara intimidasi. Terus kemudian berusaha untuk membubarkan. Cara-cara seperti itu justru memprovokasi" tegas Dahnil.

Dahnil menyatakan ketika terjadi satu tindakan provokasi intoleransi, maka akan dapat menjalar ke tempat lain. Oleh karena itu, tindakan seperti itu tidak boleh terulang. Seperti yang terjadi di Bali.

"Saya mengikuti ceramah-ceramah dia. Jadi mohon stop tindakan provokasi seperti itu. Mari sama-sama kita rawat toleransi yang autentik. Yang mana watak utamanya adalah dialog bukan intimidasi dan provokasi " imbau Dahnil.

Sumber: jawapos

Terkini