Krisis Global Dipicu Pandemi Covid-19 Lahirkan Peluang Baru

Senin, 16 Agustus 2021 | 18:30:46 WIB
AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

HARIANRIAU.CO - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengatakan bahwa krisis Global yang dipicu oleh pandemi Covid-19 juga melahirkan peluang-peluang baru dan imajinasi-imajinasi baru, dan pemikiran-pemikiran baru.

"Peluang tersebut untuk membangun kehidupan baru yang dibayangkan bisa menghindari terjadinya krisis serupa di masa depan," kata AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, Senin (16/8/2021).

Menurutnya, setiap krisis besar biasanya melahirkan revolusi pemikiran untuk menjawab perubahan dan setiap negara yang memasuki transisi menuju era baru, sering ditandai dengan perubahan konstitusi. 

"Seperti dilakukan Indonesia di tahun 1999 hingga 2002 silam, etika Indonesia menuju sistem politik yang diharapkan lebih demokratis," ujarnya.

Ia menungkapkan, hari ini sudah 19 tahun sejak Amandemen Konstitusi dilakukan oleh bangsa ini dan sekarang pun menuju dan akan memasuki era baru pasca Pandemi Covid-19 yang diikuti dengan era Disruptif di hampir semua lini.

Dunia dengan tatanan baru perlu dijawab dengan kesiapan kita secara fundamental dengan menentukan arah kemandirian dan kedaulatan bangsa, sebagai bagian kesiapan kita menyongsong perubahan global dan tata dunia baru, apalagi ada ancaman bencana di depan mata yaitu Perubahan Iklim Global.

"Maka sangat penting bagi kita sebagai bangsa yang besar dan Tangguh memiliki arah kebijakan yang kita sepakati bersama, antara Eksekutif dan Legislatif. Oleh karena itu, DPD RI mendukung adanya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) dalam Konstitusi kita," tambahnya.

Karena melalui PPHN harus mampu merumuskan kedaulatan energi, kemandirian pangan, ketahanan sektor kesehatan, sosial, ekonomi, dan pertahanan keamanan bangsa yang besar ini, termasuk kesejahteraan dan kemakmuran Daerah di seluruh Indonesia.

"Kita harus memastikan energi baru terbarukan menjadi prioritas, termasuk keberanian kita sebagai bangsa besar, untuk memanfaatkan Nuklir sebagai pembangkit energi yang relatif lebih murah, imbuhnya

Kemandirian pangan mutlak harus menjadi solusi yang harus bisa diwujudkan dengan bonus iklim negara tropis, yang berada di lintasan katulistiwa, dengan sumber daya hutan, daratan dan laut yang melimpah. Karena ancaman perang masa depan adalah perebutan sumber daya pangan dan air bersih.

Oleh karena itu, menurutnya negara harus memastikan industri-industri hulu, yang dulu dibangun di era Orde Lama dan Orde Baru tidak boleh dibiarkan mati hanya karena sudah tidak efisien lagi dibanding impor.

"Justru sebaliknya, harus kita Restorasi. Karena sebagai negara yang besar dan tangguh, kita mutlak memiliki heavy industries di sektor-sektor strategis, terutama untuk mewujudkan kemandirian pangan," pungkasnya. (MC)

Terkini