Saat Antartika Mulai Berubah Hijau

Senin,22 Mei 2017 - 01:17:00 WIB | Di Baca : 2909 Kali


Kamar mayat terbesar di Kota Karachi, Pakistan yang berkapasitas 100 hingga 150 jenazah kewalahan pada Juni 2015.

Dalam satu hari jumlah jenazah yang dibawa ke sana melebihi angka korban pembunuhan maupun penembakan yang kerap terjadi di kota terbesar di Pakistan tersebut.

Perdana Menteri Pakistan Nawas Sharif kemudian menyatakan keadaan darurat di negaranya setelah 450 warganya tewas akibat serangan hawa panas.

Badan Penanganan Bencana Nasional Pakistan (NDMA) dan tentara mendapat perintah langsung dari Perdana Menteri untuk mengambil tindakan dan mendirikan pusat-pusat bantuan serangan hawa panas yang kala itu mencapai hingga 45 derajat Celsius.
Setidaknya 1.300 jiwa yang kebanyakan manula dan dari keluarga miskin meninggal dunia akibat serangan hawa panas tersebut.

Februari 2017, hujan salju turun di Uni Emirat Arab saat suhu udara mencapai minus 5 derajat Celsius. Puncak tertinggi di sana, Jebel Jais, yang berada dekat dengan perbatasan Oman ditutupi salju tebal.

Pusat Meteorologi dan Seismologi Nasional (NCMS) mencatat saat itu suhu udara paling minimum di wilayah Uni Emirat Arab terjadi sejak 2003 yang hanya mencapai 13,3 derajat Celsius.

Perhelatan bersepeda Tour of Dubai saat itu dibatalkan karena angin kencang dikhawatirkan dapat membahayakan pesepeda. Sebuah derek (crane) rubuh menimpa beberapa mobil memicu kebakaran dan menyebabkan sejumlah korban luka.

April 2017, Kota Bandung mengalami beberapa kali hujan es. Kejadian tersebut diawali dengan hujan deras dan angin kencang yang menumbangkan pepohonan dan papan reklame di sana.

Tidak hanya warga Bandung yang sebenarnya merasakan hujan es di 2017. Warga Desa Malintang di Kabupaten Mandialing Natal, Sumatera Utara, warga Cangkringan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan warga Surabaya juga sempat merasakan hujan es.

Kejadian-kejadian di atas hanya beberapa peristiwa yang ikut disebutkan sekilas oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Profesor Edvin Aldrian.

Edvan menjelaskan perihal hasil studi beberapa ilmuwan Amerika Serikat (AS) di jurnal Current Biology yang beberapa hari lalu menyiarkan bahwa Antartika menjadi lebih hijau akibat perubahan iklim.

Ya, tim ilmuwan AS yang dipimpin Profesor Dan Charman dari University of Exeter melaporkan bahwa kehidupan di Antartika, termasuk lumut tumbuh dengan cepat dalam 50 tahun terakhir.

Kehidupan tanaman yang hanya ada 0,3 persen dari wilayah Kutub Selatan, berdasarkan temuan baru menunjukkan perubahan besar di mana dalam waktu dekat benua ini akan terlihat lebih hijau.

Seperti dikutip Xinhua, para peneliti menyebutkan Semenanjung Antartika dikenal sebagai salah satu wilayah yang mengalami pemanasan dengan cepat di Bumi.

Temperatur tahunan di sana telah merayap naik sekitar 0,5 derajat Celsius setiap dasawarsa sejak 1950-an.

Dalam studi baru tersebut, mereka meneliti lima inti bank lumut di tiga lokasi dari satu daerah yang membentang sekitar 644 kilometer (km).

Lokasi itu meliputi tiga pulau di Kutub Selatan, yakni Elephant Island, Ardley Island dan Green Island, tempat tumbuhnya tumpukan lumut yang paling tua dan paling dalam.

Mereka menganalisis data dari 150 tahun terakhir, dan mendapati bukti yang jelas mengenai "changepoints" --tahap waktu saat kegiatan biologi secara jelas meningkat-- dalam setengah abad terakhir.

Iklim Global Edvin Aldrian mengatakan peneliti BMKG yang juga pernah melakukan penelitian di Antartika menyebutkan memang pada masa musim panas ada daratan di sana yang akan terbuka dari es. Saat itu, lumut dan paku-pakuan menjadi organisme pertama yang tumbuh.
Namun pencairan es di Antartika memang cukup hebat.

Suhu di sana menjadi lebih hangat dalam setengah abad ini dan itu membuat nyaman lumut untuk tumbuh lebih cepat.

Sebenarnya, menurut Edvin, Kutub Selatan memiliki iklim sendiri yang berbeda dengan belahan bumi lain karena terlindungi sirkumpolar.

Seharusnya dengan iklim sendiri es di kutub terlindungi, namun dengan peningkatan suhu bumi saat ini ternyata itu tidak terjadi.

Perubahan iklim telah membuat deviasi suhu di Kutub Selatan pada musim dingin dan panas mencapai 8 derajat Celsius. Padahal sebelumnya deviasi normalnya hanya antara 1 hingga 1,5 derajat Celsius.

"Jadi daerah kutub memang paling menderita karena perubahan iklim," lanjut Edvin.

Suhu yang lebih hangat di daerah Kutub Selatan terkadang menyebabkan tekanan udara yang terlalu tinggi. Jika pada saat bersamaan suhu di khatulistiwa terlalu panas, terkadang mampu menarik sisi dingin lebih kencang atau sebaliknya, tergantung pola dinamika yang terjadi saat itu.

Akibatnya, peristiwa serangan hawa panas yang terjadi di Pakistan atau justru badai di Arab Saudi dan hujan salju di Uni Emirat Arab terjadi.

Peningkatan suhu bumi juga berpengaruh pada angin yang berhembus semakin tinggi di lapisan atmosfer. Ini, menurut Edvin, menyebabkan awan juga terbentuk semakin tinggi hingga mencapai lapisan bersuhu sangat rendah, hingga uap-uap air membeku menjadi es.

"Ini fenomena merata di seluruh dunia," ujar dia.

Fenome ini pula yang membuat akhir-akhir ini hujan es semakin banyak turun di sejumlah daerah di Indonesia dan juga di banyak negara.

Salah satu bukti bahwa hembusan angin menjadi semakin tinggi adalah turbulensi yang kini lebih sering terjadi di ketinggian 30.000 hingga 40.000 kaki.

Peristiwa yang baru menimpa maskapai Rusia Aeroflot, yakni penerbangan SU270 rute Moskow-Bangkok yang terkena "clear air turbulence" (CAT) saat berada di atas Myanmar pada Senin (1/5), dan menyebabkan sekitar 27 penumpang terluka.
Menurut Edvin, jadi salah satu bukti angin semakin tinggi berhembus di lapisan terendah atmosfer.

"Tidak ada cara lain, pesawat harus terbang lebih tinggi," ujar dia.
Edvin mengatakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sudah harus lebih serius dilakukan. Dengan menggunakan teknologi EBT seperti panel surya kini rumah tangga di Jerman justru menyuplai perusahaan listriknya, sedangkan kereta api di Belanda sudah digerakkan oleh energi bersih.

Cina sudah mampu menghasilkan energi baru terbarukan 21.000 megawatt (MW) atau sekitar 60 persen listrik yang ingin dihasilkan Presiden Joko Widodo yakni 35.000 MW.

Tidak ada solusi instant untuk mengendalikan perubahan iklim, dan upaya yang bisa dilakukan umat manusia adalah dengan melakukan mitigasi dan adaptasi. Dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mutlak harus dikuasai dalam menjalankan mitigasi perubahan iklim. (Sua)






Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...