Hari Pahlawan Nasional, Bung Tomo Dicap Pengkhianat dan Akan Dibunuh

Hari Pahlawan Nasional, Bung Tomo Dicap Pengkhianat dan Akan Dibunuh
Soetomo atau Bung Tomo sosok yang tak bisa dipisahkan dari pertempuran 10 November 1945. Foto net

SURABAYA – Mengingat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang menjadi Hari Pahlawan Nasional, tak bisa dilepaskan dari sosok Soetomo alias Bung Tomo. Pemuda itu menjadi pembakar semangat Arek-arek Suroboyo, masyarakat, milisi dan para pejuang di Surabaya dan sekitarnya.

Hal itu ia lakukan melalui corong siaran-siaran radionya yang selalu menebar orasi pembakar semangat.

Tapi, suatu ketika, Bung Tomo nyaris dibunuh oleh Arek-Arek Suroboyo karena dianggap sebagai pengkhianat.

Ini kisah di balik peringatan Hari Pahlawan Nasional:

Surabaya, 23 September 1945

Organ-organ pemuda Surabaya melebur dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) pimpinan Soemarsono.

Soetomo alias Bung Tomo, anggota Angkatan Muda Indonesia (AMI) pimpinan Roeslan Abdulgani, diangkat menjadi Ketua Bidang Penerangan PRI.

“Itu sebabnya dia setiap malam bicara di radio,” tulis Soemarsono dalam buku Revolusi Agustus.

Siaran-siaran Bung Tomo di Radio Pemberontakan memang berhasil membakar semangat rakyat Surabaya. Namanya pun melambung. Sang wartawan mendadak terkenal.

Pada 12 Oktober 1945, Bung Tomo mendirikan Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia (BPRI).

Begitu mengumumkan BPRI, Bung Tomo lalu ditangkap kelompok pemuda karena dianggap mengkhianati PRI.

Oleh para pemuda yang meringkusnya, Bung Tomo digelandang ke markas PRI yang menempati gedung bekas Belanda di Jalan Wilhelminalaan.

Sejak PRI bermarkas di sana, papan nama jalan itu diganti jadi Jalan Merdeka.

Bung Tomo dihadapkan ke Soemarsono.

“Saya kaget juga,” kenang Soemarsono, yang ketika itu pucuk pimpinan PRI.

“Waktu itu, kalau pemuda sudah bertindak kayak begitu, ya bisa selesai.” tuturnya.

Menurut cerita Soemarsono, di markas PRI, selain dirinya ada sejumlah pimpinan pemuda, seperti Bambang Kaslan, Supardi, Roeslan Widjajasastra.

“Soetomo itu jongkok di muka saya. Minta supaya ditolong untuk dikasih hidup, sebab pemuda pada waktu itu memang sikapnya beringas,” tutur Soemarsono.

Kepada para pemuda bersenjata itu, Soemarsono menerangkan bahwa Bung Tomo tidak menyalahi apa pun.

Kata Bung Son, demikian dia karib disapa.

Bung Tomo mendirikan organisasi BPRI maksudnya bukan untuk memecah belah, tapi mengorganisasi yang belum terorganisasi oleh pemuda, misalnya tukang becak.

Bung Tomo selamat. Dia dilepas kelompok pemuda yang meringkusnya.

“Dan, kembali sebagai Ketua Penerangan PRI, tapi juga Ketua BPRI,” ungkap Soemarsono.

Sumber: pojoksatu

Halaman :

Berita Lainnya

Index