HARIANRIAU.CO - Sudah menjadi tradisi adat bahwa perempuan harus menjalani tes keperawanan pada malam pertama. Mereka diwajibkan tidur di atas hamparan kain putih.
Tradisi ini diterapkan masyarakat adat pengembara di Kanjarbhat, negara bagian Maharashtra, India barat. Perempuan yang terbukti tidak perawan dihukum dengan cara dipermalukan di depan umum dan disiksa secara fisik.
Seperti dikutip BBC, seorang wanita bernama Anita (samaran) menceritakan bagaimana tradisi itu menimbulkan trauma mendalam. Wanita 22 tahun itu mengalaminya langsung dua tahun lalu.
Pada malam pertama, pasangan pengantin diberi sprei berwarna putih dan dibawa ke kamar hotel yang disewa oleh lembaga desa atau oleh keluarga pengantin.
Mereka diminta melakukan hubungan badan, sementara keluarga dari kedua mempelai dan anggota dewan desa menunggu di luar. Jika mempelai perempuan mengeluarkan darah ketika melakukan hubungan seksual maka ia adalah perawan. Jika tidak, maka sanksinya berat.
Selain pengantin laki-laki bisa membatalkan pernikahan, perempuan bersangkutan dipermalukan di depan umum dan bahkan dipukuli oleh anggota keluarga karena dianggap mempermalukan mereka. Padahal, tidak semua wanita mengeluarkan darah ketika melakukan hubungan seksual pertama kali.
"Jika si perempuan telah banyak melakukan olahraga, maka ada kemungkinan ia tidak akan mengeluarkan darah. Juga jika pasangannya berlaku lembut, bisa tidak terjadi pendarahan kendati perempuan itu baru pertama kali melakukan hubungan seks penetrasi," ujar dr Sonia Naik, seorang ginekolog.
Ketika tes ini dilakukan, Anita mengaku sudah tidak perawan lagi. Dia sudah menjalin hubungan yang lebih jauh dengan calon suaminya itu enam bulan sebelum menikah. Ternyata suaminya tersebut tidak membelanya sedikitpun di hadapan dewan adat. Dia akhirnya dikucilkan dari masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, saudara perempuannya yang lain ikut kena dampaknya. Mereka tidak berhasil mendapatkan suami karena stigma buruk itu.
Belakangan, perlawanan mulai muncul. Vivek Tamaichekar (25) meluncurkan kampanye di kalangan anak muda untuk menolak tes keperawanan. "Ini adalah pelanggaran privasi sepenuhnya dan cara pelaksanaannya sendiri sangat kasar dan menimbulkan trauma. Mereka dipaksa melakukan hubungan intim sementara banyak orang menunggu di luar, dan pengantin laki-laki sering diberi minuman alkohol dan diberi materi pornografi untuk 'mendidiknya'," kata Tamaichekar.
Perlawanan itu juga akan dibuktikan dengan menolak tes keperawanan saat dirinya menikah akhir tahun ini. Tamaichekar dan tunangannya sudah memberitahukan kepada panchayat di Pune, kota tempat tinggal mereka, bahwa mereka tidak akan menjalani tes keperawanan.
Dia juga membentuk kelompok WhatsApp yang diberi nama "hentikan ritual V" dan beranggotakan sekitar 60 orang, sekitar 50 persen di antara mereka adalah perempuan. Secara bersama-sama, mereka berusaha meyakinkan warga untuk menghentikan praktik itu.
Sumber : rakyatku

