Fakta-Fakta Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi dan Haris Simomora

Jumat,16 November 2018 - 12:16:22 WIB | Di Baca : 361 Kali

HARIANRIAU.CO - Pembunuhan satu keluarga di Bekasi, cukup menggegerkan publik. Bagaimana tidak, pelaku tega menghabisi nyawa empat korban sekaligus.

Dikutip harianriau.co dari laman pojoksatu.id, kabar terbaru, pelakunya tidak lain adalah adik ipar korban, yang diketahui bernama Haris Simamora.

Haris sendiri ditangkap di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Rabu (14/11) malam sekitar pukul 22.00 WIB setelah dipancing oleh petugas.

Berbagai alat bukti yang didapat polisi mengarah kepadanya. Tapi pemuda 23 tahun itu mengelak dan tak mengakui.

Sampai akhirnya, ia pun mengakui semua perbuatannya dan resmi ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (15/11) malam.

Penyidik Polda Metro Jaya pun langsung melakukan penahanan terhadap Haris Simamora per hari ini.

Berikut 14 fakta pembunuhan satu keluarga di Bekasi dan Haris Simamora:

1. Polisi temukan mobil korban yang sempat hilang

Satu mobil jenis Nissan X-Trail warna silver bernomor polisi B 1075 UOB berhasil ditemukan pada Rabu (14/11) sekitar pukul 14.00 WIB di sebuah rumah kos-kosan di Cikarang Utara.

Temuan mobil milik korban itu menjadi barang bukti baru untuk memudahkan polisi melacak jejak pelarian pelaku pembunuhan empat orang yang merupakan satu keluarga itu.

Dari barang bukti mobil yang ditemukan, polisi melacak isi dalam mobil. Misalnya, mengecek barang yang ada di dalam mobil hingga mencari kaitannya dengan kasus tersebut.

“Apa saja barang yang tertinggal, apakah ada darah yang tercecer di sana, apakah ada barang lain yang ada di sana. Akan kita selidiki,”

“Kita memerlukan dari Labfor untuk mengungkap kasusnya agar berpikir secara ilmiah,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono.

2. Pelaku ditangkap di Garut, Jawa Barat

Pelaku berinisial HS, diamankan di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Rabu (14/11) malam.

Penangkapan pelaku setelah polisi menemukan mobil korban dan melakukan olah TKP.

Polisi kemudian melakukan pengembangan. Sehingga mendapat satu nama HS sebagai terduga sebagai pelaku.

3. Pelaku adalah saudara dekat korban

Terkuaknya kasus pembunuhan satu keluarga di Pondok Melati, Kota Bekasi, Selasa (13/11) lalu, terendus fakta bahwa terduga pelaku HS merupakan orang terdekat korban.

Diketahui bahwa HS merupakan masih bersaudara dengan istri korban Maya Boru Ambarita (37).

Dari hasil penangkapan HS di Kaki Gunung Guntur, Garut pada Rabu (14/11) malam, polisi langsung menggiring pelaku ke Jakarta.

Saat dimintai keterangan, HS ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan istri Diperum Nainggolan, 38.

4. Jadi pengangguran sejak tiga bulan terakhir

Sebelumnya, Haris dipercaya kakak Deparum, Doglas Nainggolan untuk mengelola rumah kontrakan yang sekaligus menjadi tempat kejadian perkara.

Namun sejak lima tahun lalu, pengelolaan diserahkan kepada Deparum dan keluarganya yang membuat kontrakan tersebut dikelola secara profesional.

Sementara, semenjak ‘didepak’, Haris sempat bekerja di sebuah perusahaan di Cikarang, Bekasi.

Akan tetapi, ia lalu mengundurkan diri sejak tiga bulan lalu yang sekaligus menjadikannya pengangguran sejak saat itu.

“Yang bersangkutan sudah tidak bekerja selama 3 bulan. Awalnya bekerja di perusahaan di Cikarang, tapi resign,”

“HS belum menikah, umurnya sekitar di bawah 30 tahun,” ucap Argo.

5. Pelaku menyimpan celana dengan bercak darah

Polisi pun menemukan barang bukti berupa celana hitam dengan banyak bercak darah yang tersimpan di kamar kontrakan HS.

Keterlibatan HS melakukan pembunuhan kepada keluarga Gaban Nainggolan pun semakin menguat.

Saat penggeledahan mobil milik korban yang dibawa oleh HS di rumah kontrakannya, terdapat barang bukti berupa dua HP milik korban.

Dua HP tersebut juga terdapat bercak darah yang dibawa pelaku usai menghabisi empat nyawa sekaligus di dalam rumah.

“HP milik korban yang terdapat bercak darah itu diamankan, diambil sampelnya untuk diuji oleh tim labfor untuk penyidikan,”

“Selain HP, ada bercak darah juga di pedal mobil dan seat belt. Bercak darah kita ambil untuk dicocokkan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, Kamis (15/11).

6. Sampel kuku pelaku diperiksa

Tim penyidik mengambil sampel kuku terduga pelaku HS untuk diidentifikasi oleh tim penyidik Laboratorium Forensik (Labfor).

Pengambilan kuku HS tersebut untuk dicocokkan dengan sejumlah temuan barang bukti yang terdapat bercak darah oleh tim penyidik polisi gabungan Polda Metro dan Polres Metro Bekasi.

Saat dilakukan penangkapan di kaki Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat, diketahui polisi kuku HS berwarna hitam pekat.

Polisi mengendus kuku hitam terduga pelaku pembunuhan keluarga Diperum Nainggolan itu bekas darah usai tegas menghabisi empat korban dengan cara sadis.

“Penyidik mengambil kuku HS. Diambil untuk dicek ke labfor,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono di Ditkrimum PMJ, Kamis (15/11).

7. Pelaku sempat berobat ke klinik

Fakta lain sebelum pelarian HS ke kaki Gunung Guntur pun terlacak di sebuah klinik dekat rumah kontrakannya di Kampung Rawalintah, Desa Mekar Mukti, Cikarang Utara, Bekasi.

HS mendatangi klinik itu untuk mengobati luka di tangan dan di jari telunjuknya yang diduga akibat pertikaian antara korban dengannya.

Jejaknya yang sempat berada di klinik pengobatan itu, polisi akhirnya mengetahui kemana HS pergi.

“Terduga pelaku ini sempat berobat ke klinik dekat rumah kontrakannya. Ditanya dokter berkaitan dengan lukanya, HS menjawab lukanya karena jatuh,” ujar Argo Yuwono, Kamis (15/11).

8. Pelaku booking Rp 100 ribu untuk sembunyikan mobil korban

Sebelum ditangkap pelaku sempat mengontrak di kawasan Cikarang Utara. Pemilik kontrakan, Jonan, memberikan sejumlah keterangan mengenai kedatangan pelaku pada Selasa (13/11) pagi.

Dia menjelaskan, pada Selasa pagi korban datang menggunakan mobil Nissan X-trail berpelat B 1075 UOG.

“Datang jam setengah sebelas malam. Kemudian di sini nyari kamar. Dia ninggalin mobil setelah dia booking Rp 100 ribu. Terus dia pergi,” katanya.

9. Polisi gunakan metode scientific crime ungkap pembunuhan sadis

Menurut dia, pengungkapan kasus pembunuhan satu keluarga yang menewaskan empat orang di Bekasi itu dilakukan dengan metode scientific crime.

Artinya, polisi masih melengkapi bukti-bukti kuat seperti bercak darah yang ditemukan tim labfor saat olah TKP.

“HS sudah diamankan oleh tim gabungan kepolisian. Kita tunggu hasil pengungkapan kasus melalui scientific crime. Apakah darah yang ditemukan identik atau tidak,” kata Argo.

10. Haris Simamora mengelak lalu mengaku

Usai ditangkap di kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat, Rabu (14/11) malam, Haris bersikeras dan mengelak bahwa dirinya adalah pelaku pembunuhan satu keluarga di Bekasi yang tak lain adalah saudaranya sendiri.

Kendati, polisi mendapati kunci mobil Nissan X-Trail milik korban yang dilarikannya, dua hape milik korban dan uang Rp 4 juta rupiah dalam tas yang dibawanya saat itu.

Hape milik korban itu sendiri terdapat noda darah diduga milik korban.

Setelah diperiksa secara intensif, Haris pun akhirnya mengakui semua perbuatannya dan resmi ditetapkan sebagai tersangka sejak Kamis (15/11) malam.

“HS akhirnya mengakui yang membunuh (satu keluarga),” ungkap Argo, Jumat (16/11).

11. Membunuh menggunakan linggis

Usai ditetapkan sebagai tersangka, Haris pun akhirnya blak-blakan kepada penyidik. Ia mengaku, menghabisi nyawa korban Deparum dan Maya dengan menggunakan linggis.

“HS membunuh korban Deparum dan Maya dengan menggunakan linggis,” bebernya.

Linggis itu sendiri, lanjut Argo, kemudian dibuang di kawasang Kalimalang. Tujuannya untuk menghilangkan jejak.

“Linggis dibuang HS di Kalimalang,” lanjut mantan Kabid Humas Polda Jatim itu.

Sampai saat ini, terangnya, linggis yang digunakan untuk menghabisi korban itu masih belum ditemukan.

“Anggota penyidik sudah ke sana, karena hujan deras airnya pencarian ditunda. Nanti akan kita cari lagi,” kata Argo.

12. Anak korban dibunuh dengan dibekap

Pengakuan mengejutkan Haris lainnya adalah terkait cara ia mengabisi dua keponakannya, Sarah dan Arya Nainggolan.

Kepada penyidik, pemuda 23 tahun itu mengaku membekap Sarah dan Arya sampai keduanya kehabisan nafas.

“Anaknya dibekap, sampai kehabisan nafas,” tutur Argo, Jumat (16/11).

13. Haris Simamora cukup religius dan suka mendaki gunung

Fakta lain tentang Haris Simamora adalah sosoknya yang kerap mendaki gunung. Hal itu didapatkan PojokSatu.id melalui akun Facebook-nya.

Bahkan salah satu destinasi Gunung Guntur yang menjadi tempat penangkapan HS, juga pernah diunggahnya melalui foto di Facebook belum lama ini.

HS tampak bersama-sama temannya mendaki gunung tersebut.

Dalam beberapa postingan di akun Facebook-nya juga seringkali ia menulis status relijius. Kepasrahannya pada Tuhan ia ungkapan dalam beberapa situasi.

Salah satunya mendoakan korban kapal tenggelam di Danau Toba.

“Ujian itu Didikan Dari Pada TUHAN Mengajar Hati Untuk Lebih Sabar Dan ikhlas Bicara pada TUHAN Untuk kita Faham Makna San Kehendak Nya Tanpa Batas,”

“Semoga Saudara saudara Kita Disana Dijauhkan Dari Segala Marabahaya, dan slalu diberi Kesehatan Amin_PrayForDanauToba,” tulisnya pada 2 Juli 2018.

14. Tega habisi 4 nyawa karena sering dimarahi korban

Fakta lain yang terungkap adalah terkait motif pembunuhan brutal yang dilakukan Haris. Banyak pihak sudah menduga sebelumnya, bahwa dendam adalah motif yang memiliki kemungkinan terbesar.

Sedangkan motif ekonomi sangat kecil menjadi latar belakang pembunuha sadis itu. Pasalnya, polisi tak menemukan ada barang-barang berharga milik korban yang dibawa kabur oleh pelaku.

Termasuk perhiasan dan uang puluhan juta rupiah milik korban yang masih tetap ada di tempatnya.

Kepada penidik Haris mengaku, perbuatannya itu dilakukan karena ia kalap sering dimarahi oleh korban.

“Keterangan pelaku, motifnya, dia sering dimarahi. Itu saja ya,” beber Argo Yuwono, Jumat (16/11/2018).

15. Si Kancil menangis dan tak mau makan

Anjing peliharaan korban jenis Mongrel coklat, Si Kancil, diduga kuat menyaksikan kehadiran orang yang membantai tuannya, keluarga Gaban Daperum Nainggolan, Selasa malam lalu (13/11).

Saat peristiwa pembunuhan terjadi, tidak terdengar reaksi Si Kancil. Tidak ada suara gonggongan yang terdengar seperti biasanya kalau ia melihat orang asing.

Hal ini melahirkan dugaan, Si Kancil mengenal baik sang pelaku pembantaian.

Sejak pembantaian terungkap, Si Kancil diikat di pagar kediaman keluarga Nainggolan yang menjadi tempat kejadian perkara.

Sudah dua hari dia tampak tak bersemangat seperti biasanya. Si Kancil tak mau makan. Bahkan, mata Si Kancil kerap terlihat berkaca-kaca seperti menangisi kepergian tuannya.

Setelah dua hari terlantar dan tidak mendapatkan perhatian yang pantas, Kamis (15/11/2018) siang, Si Kancil dibawa oleh kelompok penyayang hewan, Goceng For Life (GFL).

Pihak GFL akan menunggu sampai ada anggota keluarga Nainggolan yang ingin mengambilnya.

Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...