Desy Kartika Sari. (Instagram)

Cewek Muslim Keluar Masuk Gereja, Baca Injil dan Nonton Misa

Rabu,12 Juni 2019 - 16:26:04 WIB | Di Baca : 57 Kali

HARIANRIAU.CO - Lulusan Universitas Indonesia (UI), Desy Kartika Sari membagikan pengalamannya saat menggarap skripsi berjudul “Gambaran Resiliensi pada Imam Katholik Dewasa Muda Dalam Menjalani Hidup Selibat”.

Dikutip harianriau dari laman pojoksatu, cewek muslim yang mengambil jurusan Psikologi ini mengaku harus keluar masuk gereja untuk mengumpulkan bahan skripsi.

Desy juga harus membaca injil dan mendalami agama Kristen agar tidak keliru dalam menyusun skripsi.

“Gue keluar masuk gereja, baca injil & kitab hukum kanonik, nonton misa, ke perpus katolik, ngumpulin jurnal, & tentunya: menghubungi para Pastor yg akan jadi responden gue,” kata pemilik akun Twitter @dekaridisini tersebut.

Tak sedikit orang yang khawatir Desy bakal pindah agama setelah mendalami agama Kristen. Namun, endingnya di luar dugaan. Desy justru semakin memahami agamanya setelah mempelajari agama lain.

Desy membutuhkan waktu selama tiga semester untuk menysun skripsi. Namun usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil menyelesaikan studinya pada 2010 lalu.

Berikut ini thread Desy Kartika Sari soal kehidupan Selibat Pastor yang diposting melalui akun @dekaridisini pada 8 Juni 2019 lalu:

Bahasa Cinta

Dulu pas gue tahu Imam Katolik (Pastor) harus hidup selibat & sengaja menghilangkan semua kenikmatan duniawi dari hidupnya, gue pikir itu ga masuk akal. Terus gue jadiin skripsi.

Gue muslim, btw. Dulu kuliah jurusan Psikologi.

Sebagai muslim & non Katolik, dulu gue pikir selibat Pastor itu menyalahi kodrat sebagai manusia & pria. Gue tulis di bab 1 semua hal yg mendukung pendapat itu.

Pas maju ke pembimbing, gue yakin 100% dia bakal dukung ide gue. Muslim juga soalnya.

Dan apa reaksi pembimbing gue?

“De, ga bisa gini. Buang dulu kacamata muslim kamu, & lihat gimana sucinya sosok pastor di mata umat Katolik. Apa keutamaan pilihan ini. REVISI!” –> kata PS gue.

Dan perjalanan bikin Bab 1 yg approvalnya makan waktu 3 semester dimulai *makanya telat lulus*

Gue keluar masuk gereja, baca injil & kitab hukum kanonik, nonton misa, ke perpus katolik, ngumpulin jurnal, & tentunya: menghubungi para Pastor yg akan jadi responden gue.

Walau gitu, hipotesis gue soal selibat menyalahi kodrat belum hilang.

Sampai akhirnya gue mulai wawancara.

Awalnya, pertanyaan gue seputar cobaan duniawi terberat. Gue yakin 100% jawaban mereka pasti terkait hasrat seksual. Kan mereka laki-laki.

Bukan.
Ternyata buat mereka, cobaan terbesar hidup selibat adalah: Kesepian.

Sejak itu, pandangan gue berubah.

Kesepian adalah bahasa yang universal. Mungkin itu kenapa gue mulai bisa memahami mereka.

Responden gue dua & tema jawabannya sama. Gue temui mereka beberapa bulan, terpisah & jawabannya konsisten.

Mereka manusia biasa juga.

Bedanya mereka ngerti cara menerima sepi, gue tidak.

Saat menjadi Pastor, mereka jd milik gereja. Artinya, keluar dari keluarga. Ga boleh memiliki hubungan khusus dengan satu/beberapa manusia saja. Mereka sudah jd milik umat.

Kalo sedih, ga bisa curhat. Kalo sakit, berobat sendiri. Umat bisa bantu, tp mereka ga boleh minta.

Kenapa gitu? Utk Selibat ada 3 Kaul yang harus diucapkan:

– Kaul Kemiskinan: melepas semua harta & segala hak milik
– Kaul Kemurnian: tidak menikah & lepas dari segala hawa nafsu
– Kaul Ketaatan: menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak gereja

Kalo gue salah tolong koreksi ya.

Jika menemui kesulitan & derita, mereka sendirian. Pasrah sepenuhnya.

Tau kan gimana rasanya memendam penderitaan? Ga bisa minta perhatian orang? Berat.

Dalam kesendirian, iman mereka diuji.
Menghadapi hilangnya hal2 yang pernah ada di hidupnya.

Meski berat, kuncinya sederhana: Komitmen.

Mereka tahu, cobaan yang ada perlu hadir, menjadi penguatan untuk memimpin umat. Menjadi adil. Ini adalah tanggung jawab menjadi Imam.

Wujud cinta.

Itulah kenapa pastor sering disebut “Menikahi Gereja”
Mirip kan dengan komitmen nikah?

Agar bertahan, mereka berkomitmen untuk “menerima” deritanya. Toleran pada prosesnya sebagai penguatan. Siap berkorban.

Disini gue mulai menyadari bahasa cinta di agama Katolik. Yang akhirnya, bikin gue sadar bahwa bahasa cinta ada di setiap agama, termasuk Islam juga.

*Lucu kan. Buat ngerti agama sendiri, harus lewat belajar agama lain dulu*

Komitmen, Toleransi & Pengorbanan adalah bahasa tertinggi cinta manusia.

Prosesnya pasti rumit. Banyak kehilangan. Tapi itu akan membuat kita kuat sebagai manusia.

Ini pelajaran berharga yang gue dapat dari mereka.

*walau tetep masih sering gagal prakteknya sih hehehe*

Singkat cerita, skripsi gue akhirnya disetujui dan gue lulus.

Tapi yang lebih gue syukuri, gue lulus dengan bonus pandangan yang baru.

Pandangan soal manusia lain, jadi beda.
Pandangan soal agama, jadi beda.
Pandangan soal perbedaan, jadi beda.
Soal cinta & komitmen, juga.

Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...