Ilustrasi

Ketidaksesuaian Kerja Dengan Kepribadian Akan Picu Stress

Sabtu,20 Agustus 2016 - 22:35:34 WIB | Di Baca : 3705 Kali

HARIANRIAU.CO - Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang mengalami stres berat di tempat kerja, alias burnout.Misalnya, atasan galak, lelah di perjalanan menuju kantor, atau pun tugas yang tak ada habisnya. 

Walau demikian, ternyata ada penyebab tak terduga mengapa banyak karyawan yang mengalami burnout, yaitu ketidaksesuaian antara tanggung jawab pekerjaan dengan tipe kepribadian.

Tak bisa dipungkiri, ada banyak orang yang tidak punya kemewahan bisa memilih pekerjaan sesuai passion atau pun kepribadian. Apa pun dikerjakan asalkan bisa menghasilkan uang yang halal.

"Terkadang seseorang memilih pekerjaan karena sesuai dengan motif 'di bawah sadar' yang dibentuk oleh norma sosial dan keinginan dari orang lain," kata Veronika Brandstatter, Ph.D, profesor psikologi dari Swiss.

Ia mencontohkan, individu yang memiliki konsep diri menjadi orang yang berpengaruh mungkin akan memilih karier sebagai manajer, meski sebenarnya aktivitas yang dikaitkan dengan pekerjaan manager tidak memberikan kepuasan secara nyata.

Brandstatter dan timnya melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana motivasi implisit seseorang berpengaruh pada kesehatan mental di lingkungan kerja. Studi ini melibatkan 97 orang dewasa yang mengalami burnout. Mereka diwawancara tentang kesehatan dan tanggung jawab pekerjaan. Kemudian diminta menuliskan tentang kepribadiannya.

Tim peneliti memfokuskan pada dua tipe kepribadian, yaitu "motif berkuasa" dan "motif afiliasi". Seseorang yang punya motif berkuasa cenderung ingin mengambil tanggung jawab orang lain, menjaga disiplin, dan senang berargumen atau negosiasi. dilansir kompas.

Sementara orang dengan motif afiliasi lebih senang menjalani hubungan personal yang positif, ingin merasakan kepercayaan, kehangatan sosial, dan ikatan.

Ternyata, burnout dialami pada berbagai jenis pekerjaan, baik itu mereka yang punya kekuasaan, tidak punya sama sekali, atau mereka yang punya kesempatan berinteraksi dengan orang lain. 

Para ahli menilai, penyebab burnout yang utama adalah kesenjangan antara pekerjaan dengan motif kepribadian yang dimiliki seseorang. 


"Frustasi akibat kebutuhan afektif bawah sadar, disebabkan karena kurangnya kesempatan untuk perilaku yang didorong oleh motif," katanya.

Lantas, bagaimana mencegahnya? Pertama, ketahui dulu dengan tipe situasi yang paling bisa membuat Anda suka: Apakah saat mendapat teman baru dan membentuk ikatan lebih kuat dengan orang lain? Jika iya, maka Anda memiliki motivasi afiliasi. 

Bila Anda lebih suka berada dalam situasi membuat keputusan dan memberi pengaruh pada orang lain, ini menunjukkan Anda adalah tipe motif berkuasa. Tetapi mungkin juga seseorang memiliki kedua tipe tersebut.

Kemudian, tanyakan pada diri sendiri, "Saat melakukan pekerjaan, apa yang saya rasakan? Apakah ada perasaan positif seperti senang dan bahagia?" 

Untuk mereka yang memiliki motif afiliasi kuat, sangat penting untuk memiliki rasa gembira, bahagia, dan pertemanan dengan orang lain di tempat kerja. Sementara itu, untuk mereka yang punya motif berkuasa, mereka perlu memiliki perasaan kekuatan dan berdampak bagi lingkungannya.

Saran tersebut tentu lebih tepat untuk orang yang ingin mencari pekerjaan baru. Untuk mereka yang sudah merasa mandek di karier sekarang, cobalah untuk berdiskusi dengan atasan atau bagian HRD mengenai kemungkinan pindah posisi atau perubahan jobdesk sehingga lebih selaras dengan kebutuhan Anda.

Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...