Ilustrasi

Virus Korona Ditaksir Rugikan Ekonomi China Rp850,3 Triliun

Senin,03 Februari 2020 - 14:01:04 WIB | Di Baca : 709 Kali


HARIANRIAU.CO -  China mungkin harus segera memotong pajak, meningkatkan pengeluaran dan memangkas suku bunga untuk mencegah kerapuhan ekonomi negaranya akibat wabah virus korona atau Novel Coronavirus (2019-nCoV) Conovarius.

Walaupun dampak ekonomi dari virus ini belum dapat ditentukan tetapi salah satu media pemerintah dan beberapa ekonom mengatakan, tingkat pertumbuhan China dapat turun dua poin persentase di kuartal tahun ini karena virus korona yang telah membuat sebagian besar ekonomi di negara ini terhenti. Penurunan pada skala itu bisa berarti bisa kehilangan setara USD62 miliar atau Rp850,3 triliun (dalam kurs Rp13.715).

China tidak sanggup melakukan pukulan seperti itu. Pertumbuhan tahun lalu sudah menjadi negara terlemah dalam hampir tiga dasawarsa, karena China bersaing dengan meningkatnya utang dan dampak dari perang dagangnya dengan Amerika Serikat.

Hal ini membuat China tidak sanggup menerima keadaan. Pada tahun lalu saja, pertumbuhan negara tirai bambu ini sudah menjadi negara terlemah dalam tiga dasarwarsa, karena bersaing dengan meningkatnya utang dan dampak perang dagang dengan Amerika Serikat.

Baca Juga: Virus Korona Bikin Was-Was, OPEC Rapatkan Barisan Bahas Harga Minyak

Coronavirus, yang pertama kali muncul di pusat kota Wuhan ini, telah menewaskan lebih dari 200 orang dan menginfeksi lebih banyak orang daripada wabah SARS pada tahun 2003 lalu. Sejauh ini, pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk membantu bisnis yang paling berpengaruh.

Mengutip dari CNN, Senin (3/1/2020), Pemerintah pusat dan daerah Pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan USD12,6 miliar atau setara dengan Rp172,8 triliun untuk dibelanjakan berbagai perawatan medis dan peralatan. Bank-bank besar telah memangkas suku bunga untuk usaha kecil dan perorangan di daerah-daerah yang paling terkena dampak. Bank of China juga mengatakan akan memungkinkan orang-orang di Wuhan dan provinsi Hubei lainnya untuk menunda pembayaran pinjaman mereka selama beberapa bulan jika mereka kehilangan sumber pendapatan mereka karena wabah ini.

Bank sentral negara itu, mengatakan akan memastikan bahwa ada cukup likuiditas di pasar keuangan ketika mereka dibuka kembali Senin depan setelah liburan 10 hari Tahun Baru Imlek. Ketika pasar Hong Kong dibuka kembali awal pekan ini, saham indeks Hang Seng (HSI) anjlok hampir 6% hanya dalam beberapa hari perdagangan.


Menurut ekonom China Zhang Ming, pemerintah mungkin akan harus lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang untuk mencegah perlambatan pertumbuhan yang lebih serius. Zhang, yang bekerja di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, ia mengharapkan pertumbuhan ekonomi merosot sebesar persentase poin menjadi 5% pada kuartal pertama, dengan asumsi epidemi berlangsung hingga akhir Maret. Dia menggambarkan itu sebagai skenario paling optimisnya, tetapi tidak memberikan ramalan spesifik jika wabah itu bertahan lebih lama.

Pemerintah dapat memotong pajak dan meningkatkan pengeluaran untuk perawatan kesehatan publik dan pelatihan kerja, ungkapnya. Dia juga mengharapkan pemerintah daerah untuk menghabiskan uang lebih banyak pada infrastruktur. Dengan meningkatkan kegiatan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Zhang mengatakan, bank sentral juga kemungkinan akan memberikan lebih banyak pemotongan suku bunga untuk menstabilkan perekonomian. Secara keseluruhan, ia mengatakan langkah-langkah seperti itu dapat membantu rebound pertumbuhan pada kuartal berikutnya dan mendorong pertumbuhan PDB tahunan menjadi sekitar 5,7%. Meskipun itu lebih rendah dari pertumbuhan 6,1% tahun lalu, itu akan sejalan dengan banyak harapan.

Zhang memperingatkan bahwa tingkat pengangguran China yang sudah menjadi perhatian para pejabat dapat mencapai rekor tertinggi dalam beberapa bulan mendatang. Tingkat tersebut telah berkisar sekitar 4% atau 5%.

Dia menambahkan virus itu juga bisa membuat barang konsumen lebih mahal. Anggaran sudah ketat karena meningkatnya utang, dan krisis daging babi yang disebabkan oleh wabah demam babi Afrika di antara babi China tahun lalu telah menyebabkan harga daging meroket. Sekarang harga sayur-sayuran telah naik karena orang-orang bergegas membeli kebutuhan pokok selama wabah virus.


sumber: okezone.com






Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...