HARIANRIAU.CO - Ahli amunisi membenarkan jika bom yang digunakan dalam serangan udara koalisi Arab yang menghantam bus sekolah di Yaman adalah buatan Amerika Serikat (AS). Serangan koalisi yang dipimpin Arab Saudi ini menewaskan 51 orang, yang sebagian besar anak-anak sekolah.
Seperti dikutip dari CNN, Senin (20/8/2018), bom tersebut dijual sebagai bagian dari kesepakatan senjata yang disetujui Departemen Luar Negeri AS dengan Arab Saudi.
Bom tersebut adalah bom MK 82 yang dipandu laser seberat 227 kilogram yang dibuat oleh Lockheed Martin, salah satu kontraktor pertahanan AS.
Bom itu sangat mirip dengan bom yang meluluhlantakkan sebuah aula pemakaman di Yaman pada Oktober 2016 di mana 155 orang tewas dan ratusan lainnya terluka. Koalisi Saudi menyalahkan "informasi yang salah" atas serangan itu, mengakui itu adalah sebuah kesalahan dan mengambil tanggung jawab.
Pada bulan Maret tahun yang sama, serangan di pasar Yaman - kali ini dilaporkan dengan bom MK 84 yang dipandu presisi AS - menewaskan 97 orang.
Sebagai buntut dari serangan aula pemakaman, mantan Presiden AS Barack Obama melarang penjualan teknologi militer berpanduan presisi ke Arab Saudi atas masalah hak asasi manusia.
Larangan itu dibatalkan oleh Sekretaris Negara Trump saat itu, Rex Tillerson pada Maret 2017.
Gambar pecahan peluru yang difilmkan sesaat setelah serangan itu dikirim ke CNN melalui kontak di Saada. Selanjutnya, kameramen yang bekerja untuk CNN memfilmkan cuplikan dari pecahan peluru itu setelah operasi pembersihan dimulai.
Para ahli amunisi membenarkan bahwa angka-angka di pecahan bom tersebut mengidentifikasi Lockheed Martin sebagai pembuatnya dan bom MK 82 tersebut adalah Paveway, sebuah bom yang dipandu laser.
Diminta untuk mengomentari bukti CNN, juru bicara koalisi Arab Kolonel Turki al-Maliki mengatakan: "Pemerintah Yaman yang terpilih secara demokratis telah mengungsi akibat pemberontakan yang didukung Iran oleh minoritas milisi Houthi."
"Koalisi Arab di Yaman dengan dukungan Dewan Keamanan PBB untuk memulihkan pemerintah yang sah. Koalisi ini beroperasi sesuai dengan hukum humaniter internasional, mengambil semua langkah praktis untuk meminimalkan korban sipil. Setiap korban sipil adalah tragedi," imbuhnya.
Dia menambahkan bahwa tidak pantas bagi koalisi Arab untuk berkomentar lebih lanjut ketika penyelidikan sedang berlangsung.
Arab Saudi menyangkal penargetan warga sipil dan membela insiden itu sebagai operasi militer yang sah dan tanggapan atas serangan rudal balistik Houthi.
Seorang juru bicara Pentagon, Rebecca Rebarich, menolak untuk mengkonfirmasi asalnya bom tersebut.
"AS telah bekerja dengan koalisi yang dipimpin Saudi untuk membantu mereka memperbaiki prosedur dan mekanisme pengawasan untuk mengurangi korban sipil," katanya.
"Meskipun kami tidak secara independen memverifikasi klaim korban sipil di mana kami tidak terlibat secara langsung, kami meminta semua pihak untuk mengurangi korban seperti itu, termasuk yang disebabkan oleh serangan rudal balistik pada pusat populasi sipil di Arab Saudi," sambungnya.
PBB sendiri telah menyerukan penyelidikan terpisah terhadap serangan itu, salah satu yang paling mematikan sejak perang Yaman dimulai pada awal 2015.
Sumber: sindonews