HARIANRIAU.CO - Perusahaan Israel menjual ratusan tas sekolah antipeluru untuk para pelanggan di Amerika Serikat (AS). Tas tahan banting itu diperkenalkan setelah AS diterpa insiden penembakan massal di sekolah di Parkland, Florida.
"Kami merancang ransel anti-peluru atas permintaan distributor kami di Amerika Serikat setelah trauma besar yang disebabkan oleh penembakan pada Februari di Florida," kata CEO Masada Armor, Snir Koren, kepada AFP, Jumat (30/8/2018).
Selama beberapa bulan, produsen peralatan pelindung Masada Armor yang bermarkas di Kota Julis, Israel utara, mengembangkan ransel antipeluru tersebut. Ransel itu disertifikasi oleh tentara dan polisi Israel.
"Sejak itu, pesanan dari Amerika Serikat berdatangan," kata Koren.

Tas antipeluru Israel dijual dari Rp7,2 juta hingga Rp10 juta. (Foto: AFP)
"Dalam dua bulan, kami menjual ratusan tas dan bersiap untuk meningkatkan tingkat produksi hingga 500 unit per bulan."
Tas itu memiliki berat sekitar 3 kilogram dan mampu melindungi dari serangan senjata api 9mm. Tas dijual seharga 500 dolar AS atau sekitar Rp7,2 juta.
Versi yang lebih canggih memiliki berat 5 kilogram dan dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap senapan kecepatan tinggi, seperti senapan AR-15, M-16, dan senjata Kalashnikov. Model ini dijual seharga lebih dari 700 dolar AS atau sekitar Rp10 juta.

Seorang karyawan Masada Armor menunjukkan ransel antipeluru baru, yang dirancang untuk anak sekolah. (Foto: AFP)
Menurut Koren, tas tersebut lebih cocok untuk mahasiswa, karena bobotnya yang terlalu berat bagi untuk siswa yang lebih muda.
"Kami sedang mengembangkan model yang lebih ringan untuk jenis morfologi mereka," katanya.
Pembantaian Parkland - salah satu penembakan massal paling mematikan dalam sejarah AS baru-baru ini - memicu kampanye pemuda nasional untuk kontrol senjata.
Pelaku penembakan Florida, Nikolas Cruz (19), diduga melepaskan tembakan di bekas sekolah menengahnya di Parkland, dengan senapan semi-otomatis AR-15. Insiden 14 Februari itu mewaskan 17 orang termasuk siswa dan staf.
Cruz mengaku mendengar suara-suara yang mengatakan kepadanya untuk, "membakar, membunuh, menghancurkan", saat akan melakukan penembakan.
Jaksa menuntut hukuman mati atas tragedi itu, dalam sidang yang akan dimulai pada akhir 2019.
Setelah penembakan, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa dirinya terbuka untuk mengetatkan kebijakan kontrol senjata. Dia juga mendukung para guru untuk memiliki senjata untuk melindungi diri dan para siswa.
sumber: inews.id