Ribuan Mayat Korban Belum Dievakuasi, Baunya Menyengat

Rabu, 03 Oktober 2018 | 00:14:26 WIB

HARIANRIAU.CO - Memasuki hari keempat usai gempa mengguncang Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi, yang disertai tsunami, masalah baru bermunculan. Bencana dahsyat itu sendiri mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga mencapai ribuan.

Sedangkan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi ke kota lain yang dianggap aman.

Di Donggala misalnya. Bau menyengat jenasah korban meninggal sudah mulai tercium dan cukup menyengat.

Ribuan jenasah itu, hingga kini masih belum bisa terevakuasi.

Kepala Bagian Humas Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lukman Azis mengatakan, situasi saat ini di Kabupaten Donggala belum banyak tersentuh.

“Kondisi disana (Donggala) belum terevakusasi. Masih tersisa bau busuk merebak, karena alat berat belum bisa bergerak mengangkat jenazah yang tertimbun,” kata Lukman dikutip JawaPos.com, Selasa (2/10).

Meski terdapat alat berat, lanjut Lukman, itupun masih terkendala karena kurangnya pasokan bahan bakar minyak.

Selain itu, juga kurangnya sumber daya manusia (SDM) untuk mengangkat jenasah para korban.

“Ada SPBU yang sudah aktif, tapi antriannya luar biasa. Jumlah relawan masih sangat sedikit, alat berat tidak ada operatornya, kalaupun ada tidak ada BBM-nya,” terang dia.

Tak hanya itu, Lukman menyebut akses untuk ke Donggala pun terputus akibat gempa dan tsunami.

Ini yang menjadi kendala untuk melakukan percepatan proses evakuasi.

Untuk membantu para korban terdampak gempa, sambung Lukman, pihaknya pada tahap awal menurunkan 100 relawan beserta tim medis. Namun itu akan terus bertambah.

“Target kita menghadirkan 5 ribu relawan di Palu dan Donggala tapi itu akan seiring pertambahan personel,” paparnya.

Oleh karena itu, Lukman berharap masyarakat tidak terdampak gempa dapat membantu untuk menjadi relawan dengan mengakses website www.act.id.

“Ingin jadi relawan bisa, jadi keahliannya apa, harus menyebutkan,”

“Nantinya yang menentukan tetap dari kita (ACT), apa sebagai relawan dalam penggalangan donasi atau kaitannya rescue medis dan sebagainya,” tandasnya.

Data terbaru BNPB mencatat, korban tewas sampai dengan Selasa (2/10/2018) pukul 17.00 WIB, sudah mencapai setidaknya 1.347 orang.

Data tersebut didapat dari Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan.

Angka itu sudah termasuk 34 pelajar yang ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan gereja di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, pada Selasa (1/10).

Sementara, 133 orang lainnya sampai saat ini belum ditemukan dan masih dianggap hilang.

Selain itu, diyakini juga masih banyak korban lainya tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan belum terevakuasi.

Terkini