Ilustrasi/Int

Harga Kondom Fantastis, Warga di Negara Ini Pilih Tak 'Berhubungan'

Jumat,14 September 2018 - 16:06:37 WIB | Di Baca : 288 Kali

HARIANRIAU.CO - Persoalan keuangan ternyata sangat mempengaruhi hubungan seks. Seperti terjadi di negara ini. Dampak hiperinflasi di Venezuela sangat memprihatinkan, akibatnya warga di negara ini berpikir dua kali saat akan melakukan hubungan seks dengan pacarnya.

Melansir BBC, Jumat (14/9/2019), stok alat kontrasepsi di negara itu semakin menipis. Satu kotak kondom dibanderol dengan harga 1 juta Bolivar. Alhasil, kondom menjadi barang mewah di negara itu.

Sebelum kebijakan putus asa Presiden Nicolas Maduro yang meningkatkan upah minimum sebesar 3.500 persen awal Agustus lalu, kebanyakan upah orang Venezuela berkisar 3 juta Bolivar. “Kami menghadapi krisis ekonomi,” kata Zuniga.

Ia menyebut bencana ekonomi menyebabkan kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari, termasuk kondom dan beberapa jenis kontrasepsi. Krisis yang disebut Zuniga mengguncang Venezuela, perekonomian mereka menyusut sepertiga sejak 2013.

Masyarakat Venezuela pun menghadapi hiperinflasi, kondisi di mana harga-harga meroket dalam waktu singkat dan mata uang mengalami devaluasi sehingga tak lagi berharga. Di Venezuela, harga sejumlah barang rata-rata naik dua kali lipat setiap 26 hari.

Jutaan orang telah meninggalkan Venzuela, menyeberang ke negara tetangga mereka, Kolombia, untuk mencari makan dan pekerjaan. Mereka yang tetap tinggal di Venezuela harus menanggung kelangkaan kebutuhan dasar dan pengurangan daya listrik.

Salah satu faktor yang memicu inflasi ekstrem adalah angka permintaan yang tinggi. Di Venezuela ada lebih banyak orang yang berupaya membeli barang di toko dibandingkan jumlah produk yang tersedia di toko itu.

Situasi ini, kata Zuniga, bahkan mengubah cara masyarakat Venezuela berhubungan seks. “Di negara ini sejumlah orang menggunakan cara tradisional untuk mencegah kehamilan.”

“Dan ketika saya menyebut cara lawas, artinya menjauhkan penis dari vagina sebelum ejakulasi (coitus interruptus) dan memahami siklus menstruasi untuk melacak masa subur,” kata Zuniga.

Situasi ekonomi Venezuela pun menyebabkan meningkatnya angka kelahiran yang tak direncanakan, penyakit seksual, hingga HIV. Karena harga pil kontrasepsi melonjak tinggi, semakin banyak perempuan di Venezuela memutuskan untuk menjalani sterilisasi untuk memastikan mereka tidak akan mengandung.

Zuniga berbicara pada paramedik di sebuah klinik di Caracas yang melakukan sterilisasi pada 400 perempuan tahun 2017. Pada hari yang disebut ‘hari sterilisasi’ dalam program kesehatan setempat, 40 operasi sterilisasi per hari secara cepat meningkat, dengan antrean mencapai 500 perempuan.

“Sebelumnya, para perempuan yang menjalani sterilisasi di Venezuela berusia lebih dari 30 tahun dan telah memiliki lebih dari tiga anak. Sekarang anda dapat menemukan perempuan 19, 20, atau 24 tahun yang berupaya mendapatkan layanan sterilisasi karena mereka tak mampu lagi membiayai anak.”

“Karena mereka tak dapat membeli pil kontrasepsi lagi dan karena keputusasaan ini, mereka benar-benar nekat,” kata Zuniga.

Pemerintah Venezuela dikritik keras akibat kelangkaan akat kontrasepsi ini. Mereka yang protes menuding pengelolaan anggaran yang keliru dan ketergantungan pada sektor perminyakan membuat perekonomian negara itu terjun bebas.

Saat harga minyak jatuh, Venezuela kekurangan dana segar dan bergelut untuk mengimpor barang baku. Kelangkaan ini menyebabkan harga akan terus naik.

Dan karena barang-barang semakin langka, uang tunai segera tersedia: Presiden Maduro memerintahkan jajarannya memperbanyak uang tunai untuk menggenjot ekonomi dan masyarakat lebih terdorong untuk berbelanja.

“Jika pemerintah mencetak banyak uang dan uang yang berputar terlampau banyak, maka orang-orang akan dengan mudah menaikkan harga dan ini ibarat prediksi yang menjadi kenyataan,” kata Rajiv Prabhakar, ekonom dari Universitas Terbuka di Inggris.

Karena para pedagang ingin lebih banyak barang mereka terjual, sejumlah penjual tak lagi menerima mata uang lokal. Mereka menjajakan barang dalam dolar Amerika Serikat atau barter dengan produk lain.

Hanya dengan menjual barang-barang ini dalam dolar, para padagang dapat mempertahankan nilai mata uang mereka dan bisa terus memesan kondom atau produk kontrasepsi lain.

Uang kertas semakin tak berharga dan para pedagang ingin bertukar barang untuk mendapatkan nilai yang setara.

Selembar roti tawar tetaplah selembar roti, tanpa melihat berapa banyak Bolivar yang di dompet Anda. Tentu saja bahan baku roti tawar dapat meningkat yang artinya mendorong harga roti itu melonjak.

Venezuela bukanlah negara pertama yang mengalami hiperinflasi. Beberapa kasus bahkan lebih buruk, seperti Jerman tahun 1923 setelah Perang Dunia I dan Zimbabwe pada awal dekade 2000-an.

Namun Dana Moneter Internasional memprediksi, inflasi Venezuela dapat menyentuh satu juta persen pada akhir 2018. Agustus lalu Presiden Maduro mengumumkan, Venezuela akan segera memiliki mata uang baru, bolivar istimewa, yang menghapus lima angka nol pada bolivar sebelumnya.

Redenominasi ini adalah bagian dari paket finansial yang diambil untuk mengontrol perekonomian Venezuela.

Namun bagi banyak orang di Venezuela, langkah ini terlalu terlambat karena masyarakat telah berjuang mati-matian memenuhi kebutuhan dasar seperti obat dan makanan.

Dan hiperinflasi telah mendorong banyak perempuan muda melakukan perubahan permanen pada tubuh mereka melalui sterilisasi. Untuk orang-orang Venezuela itu, seperti dikatakan seorang perempuan kepada Mariana Zuniga, “pabrik anak’ telah gulung tikar. (Bbc)

Share Tweet Google + Cetak
Loading...

Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @harian_riau dan LIKE Halaman Facebook: HarianRiau.co



Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : 081365016621 / 0811707378
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Harianriau.co Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan
Loading...