HARIANRIAU.CO - Pada asalnya, jin tidak bisa dilihat oleh manusia, karena itulah mereka disebut jin dari kata: janna yajunnu, yang artinya menutupi. Ibnul Faris dalam kamusnya mengatakan,
"Jin dinamakan jin, karena mereka tidak terlihat oleh manusia." (Maqayis al-Lughah, madah; janna)
Keterangan bahwa manusia tidak bisa melihat jin, bahkan Allah tegaskan dalam alquran,
"Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkankepada keduanyaauratnya. Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-Araf: 27)
Keterangan, "Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka" menunjukkan bahwa manusia tidak dapat melihat jin, yaitu pada bentuk mereka yang asli.
Lalu, bagaimana caranya bisa melihat jin? Kita telah mendapatkan kesimpulan bahwa pada kondisi normal, manusia tidak bisa melihat jin dalam bentuk mereka yang asli. Pertanyaannya adalah, mungkinkah manusia melihat jin?
Ada beberapa catatan untuk menjawab ini,
Pertama, mungkin saja jin menampakkan diri kepada manusia, namun bukan dalam bentuk asli. Bisa dalam bentuk manusia, atau binatang, atau yang lainnya. Kenyataan ini dialami oleh beberapa manusia, diantaranya sahabat Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu.
Suatu ketika beliau menangkap jin yang mencuri kurma di kebunnya. Ubay bin Kaab berkata kepada Jin: "Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?". Si jin menjawab: "Ayat kursi Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore". Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab:
"Si buruk itu berkata benar". (HR. Hakim 2064, Ibnu Hibban 784, Syuaib al-Arnauth mengatakan: Sanadnya kuat).
Kejadian yang semisal juga dialami Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Ketika beliau radhiyallahu anhu ditugasi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menjaga makanan zakat, malam harinya ada anak remaja mencuri makanan. Ketika ditangkap dan hendak dilaporkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berusaha memelas dan berjanji tidak akan kembali. Tapi dia dusta, dia tetap kembali, hingga terjadi selama 3 malam.
Di malam ketiga, Abu Hurairah tidak memberi ampun dan akan dilaporkan kepada Rasulullah. Namun remaja itu terus memelas dan sebagai gantinya, Abu Hurairah diajari bacaan pengaman tidur, yaitu ayat kursi. Setelah diajari ayat kursi, Abu Hurairah melepaskannya. Pagi harinya, kejadian ini beliau sampaikan kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda,
"Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta." (HR. Bukhari 2311).
Ternyata remaja ini adalah jin. Ketika menjelaskan hadis Abu Hurairah radhiallahu anhu di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,
"Setan memiliki kebiasaan berdusta, dan terkadang dia menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan untuk dilihat manusia. Sementara ayat, Sesungguhnya, iblis dan golongannya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka, khusus untuk keadaan ketika dia menampakkan dalam bentuknya yang asli, sesuai yang Allah ciptakan." (Fathul Bari, 4/489).
Kalimat: Jin menampakkan diri kepada manusia menunjukkan bahwa itu terjadi murni karena kehendak jin, dan di luar kehendak manusia. Artinya, jin menampakkan diri seperti yang dialami Abu Hurairah atau Ubay bin Kaab radhiyallahu anhuma, bukan karena keinginan mereka untuk bisa melihat jin, tapi karena keinginan mereka sendiri.
Kedua, jika tidak ada jin yang menampakkan diri kepada kita, mungkinkah kita bisa melihat jin? Mungkin saja, jika si manusia mengajukan permintaan kepada jin.
sumber: inilah.com

