Harian Riau

Harianriau.co

Bertaruh Nyawa Demi Hitler, Kisah Menyedihkan Taster Makanan Sang Fuhrer

Bertaruh Nyawa Demi Hitler, Kisah Menyedihkan Taster Makanan Sang Fuhrer
Kanselir Jerman, Adolf Hitler dan kekasihnya Eva Braun sedang bersantap bersama di Berchtesgaden, Bavaria sekitar tahun 1937 - 1943. [Shutterstock] 
Loading...


HARIANRIAU.CO - Di medan perang yang serba telisik dan rahasia, selalu ada kemungkinan racun dalam setiap makanan para petinggi negara. Tak terkecuali Adolf Hitler, sosok paling andil dalam Perang Dunia yang begitu dibenci sekaligus dipuja pengikutnya.

Dan di antara sederet percobaan rencana pembunuhan Hitler di meja makan, belasan wanita mempertaruhkan nyawa setiap harinya. Mereka para pencicip makanan Sang Fuhrer, yang selalu lebih dekat dengan maut seperti halnya para serdadu di medan perang.

Margot Wolk (96) salah satu pencicip makanan Hitler merupakan salah satu yang paling beruntung, ia selamat dari sekian percobaan rencana pembunuhan Sang Fuhrer.

Lantas, setelah sekian purnama bungkam dan menutup jati dirinya, sang taster makanan terakhir angkat suara. Pada berbagai media, Margot menceritakan pengalaman pahitnya.

Loading...

''Saya belum pernah bertemu langsung dengan Hitler namun setiap hari saya harus bertaruh nyawa untuknya,'' ujar Margot seperti dari Telegraph.

(Instagram Nicks Squire)

Menjadi pencicip makanan bagi penguasa Jerman itu sebenarnya bukanlah pilihan hidup yang diinginkan Margot.

Saat itu tahun 1941, Margot yang bukan seorang Nazi, terpaksa meninggalkan kehidupannya di Berlin. Apartemen tempat ia dan suaminya, Karl diledakkan pasukan SS.

Keduanya lantas melarikan diri menuju kota asal ibu mertuanya di Parcz, Polandia. Namun nahas, kawasan yang disulap jadi pangkalan militer Hitler ini tak lebih baik dari Berlin.

Margot dan suaminya ditangkap. Mereka dipisahkan.

Margot bersama wanita muda lainnya dibawa ke markas Hitler dengan paksa dan dijaga ketat di Prusia selama Perang Dunia II. 

Saat itu usianya masih 24 tahun. Ia didaftarkan sebagai pencicip makanan Hitler. Tugasnya, memastikan tidak ada racun di dalam makanan yang hendak disantap Sang Fuhrer.

''Tak pernah daging, karena Hitler adalah seorang vegetarian,'' ungkap Margot pada Spiegel Online.

Lima belas wanita yang menjadi pencicip makanan Hitler tersebut kerap menangis saat menyantap makanan-makanan hambar yang terdiri dari nasi, pasta, kacang polong, hingga kembang kol. Setiap hari, wanita-wanita itu selalu dirundung cemas, takut suapan pertama mereka sekaligus menjadi suapan terakhir kalinya.

''Beberapa dari kami begitu ketakutan hingga meneteskan air mata saat menyantap makanan itu,'' ungkap Margot pada RBB Berlin.

''Kami harus menyantap semuanya. Lantas menanti hingga satu jam. Setiap jam, kami dirundung kepanikan, begitu khawatir keracunan. Lantas jika kami selamat, kami akan menangis terharu sejadi-jadinya seperti anak anjing,'' lanjut Margot.

Tak hanya mencicipi makanan, Margot dan wanita-wanita muda itu juga dipaksa melayani nafsu bejat para perwira SS.

Margot beruntung, seorang prajurit menyelamatkan hidupnya di akhir 1944. Ia kemudian melarikan diri menggunakan kereta propaganda menteri Josef Goebbels.

Namun nasib buruk tak serta merta beranjak dari kehidupan Margot. Saat Prusia jatuh ke tangan tentara merah Uni Soviet, ia jadi bulan-bulanan mereka.

''Tentara merah membuka pakaian kami, dan menyeret tubuh kami ke flat kedokteran. Kami ditahan di sana dan diperkosa selama 2 minggu. Tempat itu merupakan neraka dunia. Mimpi buruk tak pernah sirna,'' tutur Margot.

Saat PD II berakhir, Margot nan terpuruk sempat bertemu Norman, seorang tentara Inggris. Norman meminta Margot pindah bersamanya ke Britania Raya, namun Margot memilih mencari keberadaan suaminya, Karl.

Tak dinyanya Karl masih hidup, betapa pun wajahnya sulit dikenali. Keduanya bertemu pada tahun 1946. Margot dan Karl menjalankan hidup bersama hingga Karl mengembuskan napas terakhir pada tahun 1990.

Di sisa umurnya, butuh dua dekade bagi Margot kemudian untuk berdamai dan menceritakan masa lalunya nan kelam pada dunia.

sumber: suara.com




Tags
Sejarah
Loading...
Ikuti kami di